PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TERHADAP STATUS ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI ORANG TUANYA

SETIAWAN NUR WAHDIYANTO - NIM. 05350107, (2011) PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TERHADAP STATUS ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI ORANG TUANYA. Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Akhir-akhir ini sering tendengar dalam pemberitaan mass media, kasus-kasus anak yang di buang di depan rumah orang, ditinggalkan di rumah sakit oleh yang melahirkan, dan lain-lain cara untuk melepaskan tanggung jawab terhadap anak yang dilahirkan. Selain bencana alam juga potensial menimbulkan anak-anak tidak diketahui siapa orang tuanya. Seperti musibah tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 di Aceh, di samping meluluhlantakkan bumi Serambi Mekkah, telah mengakibatkan ribuan anak-anak terpisah dari keluarga, kehilangan keluarga, tanpa mengetahui lagi siapa keluarganya.Untuk mewujudkan perlindungan dan kesejahteraan anak, adopsi atau pengangkatan anak bisa menjadi salah satu cara untuk menyelamatkan anak tersebut. Dari kasus di atas, bila ternyata anak malang tersebut masih hidup, maka kewajiban bagi yang menemukan untuk menyelamatkannya dari malapetaka yang akan menimpanya. Pemungutan terhadap anak al-laqit tersebut dominan dimotivasi oleh rasa kemanusiaan dalam konteks ukhuwah insaniyah yang perlu dijunjung oleh umat manusia. Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah bagaimana nasab anak yang tidak diketahui asal usul identitas orang tuanya (allaqit) terhadap orang yang memungut atau mengangkatnya, dan bagaimana kedudukan dalam hal pengasuhan, perwalian, dan warisan anak yang tidak diketahui asal usul identitas orang tuanya (al-laqit) terhadap orang yang memungut atau mengangkatnya perspektif Hukum Islam dalam Hukum Positif. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pustaka (library research), tekhnik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka, penelitian in bersifat preskriptif Adapun analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif serta menggunakan pendekatan normatif yuridis. Hasil penelitian adalah solusi terhadap anak al-laqit tersebut tidak boleh dinasabkan kepada orang yang memungutnya. Tidak mempunyai nasab apabila tidak diketahui orang tuanya, kewajiban orang yang menemukannya adalah sebatas pengasuhan pemeliharaan, pendidikan terhadap anak al-laqit, dan anak allaqit tersebut, jika sekiranya perempuan, maka orang yang memungutnya sebenarnya tidak mempunyai hak perwalian atasnya dan yang mewakilinya adalah (sultan atau pemerintahan), atau penggantinya yang mewakilinya adalah wali hakim, dan hakim bisa menunjuk orang yang memungutnya sebagai wali hakim. Dalam hukum positif hanya menjelaskan adanya wali hakim, jika tidak ada wali yang menikahkannya dalam kompilasi hukum islam, tidak menjelaskan secara rinci terhadap perwalian anak al-laqit, dalam kewarisan anak al-laqit juga tidak menjadi ahli waris bagi orang yang memungutnya, begitu juga sebaliknya.kemudian jika si pewaris bermaksud akan memberikan hartanya itu kepada anak pungutnya tersebut, maka dia dapat menyalurkan melalui cara hibahsewaktu masih hidup, atau dengan jalan wasiat dalam batas sepertiga pusaka, sebelum meninggal dunia, begitu juga sebaliknya. div

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing: 1. Drs. Dahwan, M.Si., 2. Yasin Baidi, S.Ag., M.Ag,
Uncontrolled Keywords: anak al-laqit, nasab anak, pengasuhan, perwalian, dan warisan
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Last Modified: 04 May 2012 16:47
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/5387

Actions (login required)

View Item View Item