RAGHIBAH AL-IMAM QISHSHAH SUKUTH AL-IMAM LI NUWAL AL-SA'DAWI

ACHMAD KHOTIB JANUAR - NIM. 04111824, (2011) RAGHIBAH AL-IMAM QISHSHAH SUKUTH AL-IMAM LI NUWAL AL-SA'DAWI. Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Kajian Sastra akhir-akhir ini sangat sering dilakukan, tidak hanya karena tuntutan akademik saja tapi semangat untuk mengenal sastra lebih jauh memang sudah menjadi fenomena tersendiri bagi sebagian besar orang. Karya sastra tersebut bisa di analisis dengan berbagai pendekatan, ada yang structural baik murni maupun genetic, semiotic, sosiologi sastra, dan juga dengan psikoanalisis. Dalam karya sastra yang saya bedah ini saya menggunakan psikoanalisis sebagai pendekatannya, dan psikoanalisis yang saya gunakan adalah Lacanian atau psikoanalisis Lacan. Psikoanalisis Lacanian mempunyai dua garis besar, yaitu fenomenologi dan strukturalisme. Fenomenologi menekankan pada konsep diri yang bebas, sedangkan strukturalisme menekankan pada determinisme bahasa. Karena itu bagi Lacan konsep diri menjadi pusat perhatian, sementara strukturalisme menjadi cara pembahasannya. Secara singkat perkembangan diri tersebut dibagi menjadi tiga fase, fase praoedipal saat bayi sama sekali belum mengenal apapun batasan ego atau dirinya, fase cermin atau tatanan imajiner yaitu saat anak mulai bisa identifikasi imajiner dengan objek-objek yang ditemui, dan fase oedipal dimana si anak mulai menerima kehadiran ayah disamping ibunya. Individu menurut Lacan tidak hanya kehilangan kejernihan atas perbedaannya dengan yang lain, tetapi juga mencampuradukkan hasratnya dengan hasrat orang lain. Dalam kisah sukuth el imam ini terdapat suatu bagian dimana sang raja tunduk kepada hasrat rakyatnya dengan menyuruh membunuh bintullah yang ditemui, padahal sebelumnya itu titah sang raja, dengan demikian raja menjadikan hasrat rakyatnya sebagai hasratnya, begitu juga sebaliknya dengan rakyatnya. Secara tak sadar raja menjadikan dirinya sebagai cermin bagi rakyatnya, dan dia juga dibentuk oleh rakyatnya, disini jelas terlihat adanya sebuah hasrat berbicara. Menurut Lacan ketaksadaran terbentuk bersamaan dengan bahasa, tatkala katakata gagal memenuhi janjinya untuk memberikan pemuasan, maka ketaksadaran menyembul keluar menyajikan penampilannya. Hasrat menurut Lacan bukanlah nafsu tapi sesuatu yang bisa memberikan kepuasan. Saat hasrat dan bahasa tampil tidak serasi maka ketaksadaran muncul,dalam bagian kisah ini ada sebuah bagian dimana sang raja mengingkari kata-katanya untuk membunuh bintullah karena bintullah dianggap membahayakan pada sang raja, tapi secara tidak sadar dia malah menunduk dihadapan bintullah. Dari kesemua adegan dalam cerita itu ternyata keempat hasrat menurut Lacan terdapat didalamnya, yakni Passive Narsissistic desire, Active Narsissistic Desire, Passive Anaclitic Desire dan Active Anaclitic Desire. div

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing: Drs. Bachrum Bunyamin, MA.
Uncontrolled Keywords: Sastra, prndekatan psikoanalisis Lacan,
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Last Modified: 04 May 2012 16:48
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/5455

Actions (login required)

View Item View Item