AKULTURASI BUDAYA PADA ARSITEKTUR MASJID AGUNG PALEMBANG

ALVIN SUSANDI - NIM. 06120003, (2011) AKULTURASI BUDAYA PADA ARSITEKTUR MASJID AGUNG PALEMBANG. Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[img] Text (AKULTURASI BUDAYA PADA ARSITEKTUR MASJID AGUNG PALEMBANG)
BAB I,V, DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (848Kb)
[img] Text (AKULTURASI BUDAYA PADA ARSITEKTUR MASJID AGUNG PALEMBANG)
BAB II, III, IV.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (525Kb)

Abstract

Perkataan quot;Masjid quot; dapat diartikan sebagai tempat di mana saja untuk bersembahyang orang muslim, seperti sabda Nabi Muhammad Saw: quot;Di manapun engkau bersembahyang, tempat itulah masjid quot;. Kata masjid disebut sebanyak dua puluh delapan kali di dalam al-Qur'an, berasal dari kata sajadasujud, yang berarti patuh, taat serta tunduk penuh hormat dan takzim. Masjid di setiap daerah mempunyai perbedaan dan ciri khusus dari segi arsitekturnya. Dalam segi arsitektur sering terjadi akulturasi dengan budaya setempat atau budaya lokal. Akulturasi merupakan proses pembudayaan lewat pencampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi. Percampuran dan perpaduan budaya itu bisa berkenaan dengan wujud budaya yang monumental. Salah satu bentuknya terdapat pada bidang seni bangun, sebagai contoh penampilan arsitektur masjid Agung Palembang yang memperlihatkan adanya wujud akulturasi lokal, Cina, maupun Eropa. Penelitian tentang akulturasi budaya pada arsitektur masjid Agung Palembang adalah penelitian lapangan (Field research) dan penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat kualitatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui unsur budaya mana saja yang mempengaruhi arsitektur masjid Agung Palembang dan bentuk akulturasi pada arsitektur masjid tersebut. Adapun rumusan masalah yang dijadikan panduan penelitian ini antara lain; 1. Apa yang melatarbelakangi terjadinya akulturasi pada arsitektur masjid Agung Palembang? 2.Pengaruh budaya mana saja yang terlihat pada masjid Agung Palembang? 3.Bagaimana bentuk akulturasi pada masjid Agung Palembang?. Untuk mendapatkan analisis yang lebih mendalam mengenai akulturasi budaya pada arsitektur masjid Agung Palembang, teori yang digunakan adalah teori difusi yang dikemukakan oleh Graebner dan teori akulturasi yang dikemukakan J.Powel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode budaya dengan pendekatan historis. Hasil penelitian membuktikan bahwa Masjid Agung Palembang didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin II pada tanggal 1 Jumadil akhir tahun 1151 M (1738 M) dan selesai tanggal 1 Jumadil Akhir 1161 H (1748 M). Dari segi arsitektur masjid Agung Palembang merupakan perpaduan Timur dan Barat. Budaya Cina, Eropa, Arab, dan lokal menyemat pada garis arsitektur, dengan komposisi yang nyaris tanpa cacat. Di atas sisi limas masjid ada jurai daun simbar atau semacam hiasan menyerupai tanduk kambing yang melengkung dan lancip sebanyak 13 buah di setiap sisinya. Struktur ini menyerupai atap kelenteng dan bangunan tradisional Cina lainnya. Masjid Agung Palembang juga memiliki serambi seperti arsitektur klasik Yunani-Dorik, gaya seperti itu juga banyak ditemui pada bangunan Hindia buatan abad XVIII hingga awal abad XX. Sedangkan budaya Arab berpadu dengan budaya lokal terasa dalam beragam lengkungan halus gaya kaligrafi yang terdapat pada leher mustaka, jendela, mimbar, mihrab, dan pintu masuk masjid. Perpaduan budaya ini menjadi ciri khas Masjid Agung Palembang. div

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: Pembimbing: Siti Maimunah, M. Hum,
Uncontrolled Keywords: akulturasi budaya, arsitektur, masjid agung Palembang
Subjects: Sejarah Peradaban Islam
Divisions: Fakultas Adab > Sejarah Kebudayaan Islam
Depositing User: Users 1 not found.
Date Deposited: 10 Jan 2013 13:37
Last Modified: 10 Jan 2013 13:40
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/5506

Actions (login required)

View Item View Item