DEMOKRATISASI DI INDONESIA (Studi Komparatif Pemikiran Abdurrahman Wahid dan Nurcholish Madjid )

SAPTA WAHYONO - NIM. 04121762, (2011) DEMOKRATISASI DI INDONESIA (Studi Komparatif Pemikiran Abdurrahman Wahid dan Nurcholish Madjid ). Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[img]
Preview
Text (DEMOKRATISASI DI INDONESIA (Studi Komparatif Pemikiran Abdurrahman Wahid dan Nurcholish Madjid ))
BAB I, V, DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (548kB) | Preview
[img] Text (DEMOKRATISASI DI INDONESIA (Studi Komparatif Pemikiran Abdurrahman Wahid dan Nurcholish Madjid ))
BAB II, III, IV.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (129kB)

Abstract

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) banyak menyuarakan pentingnya demokrasi di Indonesia serta merekonstruksi pemahaman keagamaan yang dapat mendukung terciptanya demokrasi, dan pengembangan Islam yang ramah dengan budaya lokal. Gus Dur mencoba untuk menetralisir ketegangan hubungan Islam dan negara terkait dengan penolakan ormas-ormas Islam terhadap pancasila sebagai asas organisasinya. Gagasan ini berangkat dari komitmen Gus Dur yang tinggi terhadap nilai-nilai universal Islam, sebagai sesuatu yang olehnya dianggap mempunyai kekuatan yang massif untuk membangun basis-basis kehidupan politik yang adil, egaliter, dan demokratis. Sedangkan bagi Nurcholish Madjid (Cak Nur) Islam dan demokrasi bukan pilihan yang delematis dan berkonsekuensi pada pecahnya kepribadian, justru sebaliknya Islam dan demokrasi harus dikombinasikan, baik dalam pengertian prinsip maupun prosedur. Cak Nur mencoba mengawinkan antara demokrasi dan Islam yang menghasilkan demokrasi dengan paradigma Islam. Cak Nur berkeyakinan bahwa tanpa Islam, demokrasi akan kekurangan landasan, nafas, dan roh, sebaliknya tanpa demokarasi, Islam akan kesulitan mewujudkan tujuan dasarnya sebagai sarana bagai kebaikan untuk semua. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan menggunakan pendekatan sejarah dan biografi. Data dikumpulkan dari bahan pustaka seperti buku, majalah, dan lain-lain. Data yang didapat kemudian diuji kredibilitasnya melalui kritik internal dan eksternal sehingga akan mendapatkan data yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan. Kemudian data-data yang telah diuji diinterpretasikan untuk menjadi karya sejarah. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa Menurut Gus Dur demokrasi hanya bisa dibangun di atas landasan pendidikan yang kuat, dengan ditopang oleh tingkat kesejahteraan ekonomi yang memadai, sedangkan menurut menurut Cak Nur demokrasi harus dipandang sebagai suatu cara untuk mencapai tujuan dan bukan tujuan itu sendiri. Mengenai hubungan demokrasi dan Islam Gus Dur berpendapat bahwa Islam dan pola implementasinya dalam konteks negara dan bangsa, sangat memperhatikan konteks politik dan sosiologis suatu bangsa dan masyarakat. Karena ia lebih menekankan substansi ajaran Islam daripada simbol-simbol formalnya. Adapun menurut Cak Nur Islam sendiri sebenarnya memiliki konsep tetang demokrasi, yaitu lewat ajaran yang dalam Islam disebut dengan syuro (musyawarah). Baik Gus Dur maupun Cak Nur sependapat bahwa demokrasi adalah pilihan yang tepat bagi bangsa Indonesia, dan keduanya juga berpendapat bahwa demokrasi tidak bertentangan dengan Islam.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing: Drs. Lathiful Khuluq, MA., Ph.D., BSW.
Uncontrolled Keywords: nilai-nilai universal Islam, kehidupan politik, adil, egaliter, dan demokratis, paradigma Islam
Subjects: Sejarah Peradaban / Kebudayaan Islam
Divisions: Fakultas Adab dan Ilmu Budaya > Sejarah Kebudayaan Islam (S1)
Depositing User / Editor: Miftakhul Yazid Fuadi, SIP.
Date Deposited: 06 Feb 2013 09:26
Last Modified: 23 Dec 2016 02:11
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/5551

Actions (login required)

View Item View Item