REKONSTRUKSI KESETARAAN GENDER DALAM KELUARGA MENURUT K. H. ABDURRAHMAN WAHID

MOCHAMAD IRWANTO - NIM. 06350091, (2011) REKONSTRUKSI KESETARAAN GENDER DALAM KELUARGA MENURUT K. H. ABDURRAHMAN WAHID. Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK K. H. ABDURRAHMAN WAHID salah satu tokoh cendikiawan sekaligus pembaru Muslim yang meliputi bidang keagamaan, politik dan gender. Kesemuanya, tentu di latarbelakangi oleh sosio antropologis masyarakat Indonesia. Pemahaman dan pembedaan antara konsep seks dan gender sangatlah diperlukan dalam melakukan analisisi untuk memahami persoalan-persoalan ketidak adilan yang menimpa kaum perempuan. Sejauh ini, KDRT masih sering terjadi karena akar budaya masyarakat patriakis, yang secara umum mengakibatkan timbulnya berbagai pola budaya yang menempatkan perempuan pada peran tradisional yaitu sebagai istri, ibu dengan kekuasaan terbatas dalam lingkup keluarga. Sedangkan, dalam bidang-bidang sosial, pekerjaan, dan bahkan lebih-lebih politik hak-hak kaum ini biasanya memang lebih inferior ketimbang apa yang dapat dinikmati oleh laki-laki, apalagi masyarakat tradisional yang berorientasi agraris cenderung menempatkan kaum laki-laki di depan, di luar rumah dan kaum perempuan di rumah. Dengan bersifat deskriptif-analitik dan melalui pendekatan gender, penyusun mencoba menganalisa beberapa pemikiran Gender K.H Abdurrahman Wahid terkhusus tentang persoalan rumah tangga, yang meliputi keadilan suami dan istri, keadilan pembagian waris, serta poligami. Karena sejauh ini, dalam konsep para mufassir Islam sendiri muncul beberapa penafsiran yang condong membela kaum laiki-laki (maskulin). Fenomena ini sangat menarik, karena dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pemikiran untuk mengantisipasi bentuk ketimpangan gender. Penelitian ini masuk pada kategori penelitian kepustakaan (library research). Dengan memakai pendekatan hermeneutika, penelitian ini mencoba menguraikan dan mengungkap pendapat-pendapa K. H abdurrahman Wahid, tentang keadilan persoalan waris dan poligami yang dianggap krusial dalam persoalan rumah tangga. Beberapa hasil penetian keadilan gender dalam keluarga menurut K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pertama, untuk menilai kepastian hukum itu harus dilihat dari nilai keadilan dan kesetaraan Kedua, keadilan dalam keluarga harus seimbang dan tidak ada yang merasa dirugikan (saling take and give). Ketiga, Gus Dur tidak setuju terhadap poligami karena hanya akan merusak tatanan keluarga sakinah mawaddah waarahmah lantaran ada bias gender. Pada dasarnya, ketimpangan itu tidak akan melahirkan sebuah kesadaran kolektif dalam keluarga. Sangat urgen membentuk keluarga harmonis tanpa ada diskriminasi antara kedudukan laki-laki dan perempuan dalam keluarga yang pada dasarnya diciptakan agar saling melengkapi. Hakikat manusia mempunyai tugas yang tidak ringan di muka bumi ini, yaitu mentaati perintah Allah di dalam kehidupannya sebagaimana aturan yang telah ditetapkan oleh-Nya di dalam kitabullah, serta menjauhi semua semua yang larangan-Nya. Karena manusia diciptakan kewajibannya yang utama adalah untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya. div

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing: 1. DR. H. Agus Moh Najib, S.Ag., M.Ag. 2. Hj. Fatma Amilia, S.Ag., M.Si.
Uncontrolled Keywords: rekonstruksi kesetaraan gender, keluarga, KH. Abdurrahman Wahid
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Last Modified: 04 May 2012 23:49
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/6164

Actions (login required)

View Item View Item