MAHRAM ANAK ZINA DAN AKIBAT HUKUMNYA MENURUT MAZHAB SYAFII DAN HANBALI

MUHAMMAD KHOLIS - NIM. 08360025-K, (2011) MAHRAM ANAK ZINA DAN AKIBAT HUKUMNYA MENURUT MAZHAB SYAFII DAN HANBALI. Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Mahram adalah sebuah kata yang menunjukkan bahwa seorang perempuan haram untuk dinikahi oleh seorang laki-laki karena adanya hubungan kenasaban, persusuan, dan perkawinan. Hubungan mah{ram menjadi sebab diharamkannya bagi seorang laki-laki untuk melakukan pernikahan dengan wanita-wanita yang menjadi mahramnya sebagaimana dalam surat an-Nisa' (4) : 23. Dalam ayat tersebut Allah SWT menegaskan keharaman anak perempuan untuk dinikahi oleh ayahnya. Para ulama sepakat bahwa anak zina terputus nasab dari laki-laki yang menzinai ibunya (bapak biologisnya). Sehingga anak zina tersebut bukanlah mahram bagi laki-laki yang menzinai ibunya dan keluarga laki-laki tersebut, sebab status mah{ram didapatkan dengan tiga sebab yaitu nasab, persusuan dan perkawinan dan ketiga sebab ini tidak ada pada anak zina. Oleh karena itu ia bukanlah mah{ram bagi lelaki tersebut, saudara dan anak-anak lelaki tersebut yang dilahirkan dari pernikahan yang sah. Melihat hal ini, mungkin akan munculpertanyaan: apakah laki-laki tersebut boleh untuk menikahinya. Ada dua perbedaan pandangan yang terjadi tentang hukum menikah antara ayah dan anak hasil zinanya. Yang mana menurut mazhab Hanbali anak zina haram untuk dinikahi oleh ayah zinanya sendiri. sedangkan mazhab Syafi'i memandang bahwaAnak hasil zina itu tidak memiliki hubungan nasab dengan ayahnya secara syar'i. Sehingga Syafi'i memperbolehkan seorang laki-laki mengawini anak perempuan, cucu perempuan, saudara perempuan dan keponakan perempuan hasil zinanya. Karena mereka dianggap tidak mempunyai hubungan nasab atau bukan mahramnya. Dalam Penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan usul fiqh, yaitu untuk menjelaskan pendapat dan argumen mazhab Syafii dan mazhab Hanbali tentang mahram anak zina dalam istinbat hukum kedua mazhab di atas dan kaidah-kaidah usul maupun fiqhiyyah yang dipakai dalam metode pentarjihan hukum. Berdasarkan pendekatan dan metode sebagaimana di atas, terungkap bahwa ulama Hanabilah mengatakan bahwa perzinaan menjadi sebab adanya musaharah sedangkan ulama Syafiiyyah berpendapat lain, mereka mengatakan, bahwa perzinaan tidak dapat menjadi sebab adanya musaharah. Dengan kata lain ulama hanabilah mengharamkan seorang laki-laki atau anaknya atau ayahnya untuk menikahi anaknya sendiri dari hasil perzinaan, karena keumuman ayat an-Nisa (4) : 23 tentang mahram wanita. Sedangkan ulama Syafiiyah memperbolehkan, yang dalam hal ini salah satu argumen mazhab Syafii adalah mendasarkan pada suatu hadis nabi yang menyatakan bahwa suatu yang haram tidak dapat mengharamkan suatu yang halal. div

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing: 1. DR. H. Agus Moh Najib, S.Ag., M.Ag. 2. Hj. Fatma Amilia, S.Ag., M.Si.
Uncontrolled Keywords: mahram anak zina, mazhab Syafii dan Hanbali
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Last Modified: 04 May 2012 16:49
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/6176

Actions (login required)

View Item View Item