MENSTRUAL TABU BAGI PEREMPUAN SUKU NUAULU DI DESA SEPA

RAHMA WATY TUANANI - NIM. 07360065, (2011) MENSTRUAL TABU BAGI PEREMPUAN SUKU NUAULU DI DESA SEPA. Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Suku terasing yang disebut dengan Suku Nuaulu ini berada di Desa Sepa kabupaten Maluku Tengah, masyarakat Desa Sepa menyebut mereka dengan Nua-Hatan sebelum Suku Nuaulu ini mengenal masyarakat pada zaman modern Suku Nuaulu ini menggunakan paham animisme Suku Nuaulu sangat behati-hati dalam berinteraksi dengan masyarakat pada umumnya. Masyarakat terasing Nuaulu barasal dari rumpun Suku Alifuru di Pulau Seram (Maluku Tengah) hingga kini masih memegang teguh Adat Istiadat warisan leluhur mereka. Di dalam hukum adat yang diterapkan di Suku Nuaulu sangat unik terutama hukum adat bagi perempuan yang sedang menstruasi tersebut dianggap tabu karena didalam adat Suku Nuaulu apabila seorang perempuan telah akil baligh atau menstruasi yang disebut dengan Pinamou perempuan tersebut diasingkan dari rumahnya untuk sementara waktu selama masa menstruasi dan tidak diperbolehkan kembali ke rumahnya sebelum perempuan tersebut disucikan. Penelitian dalam rangka penyusunan Skripsi ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana perlakuan Suku Nuaulu terhadap perempuan menstruasi kedudukan hukum adat dan keagamaan dalam perspektif hukum Islam. Apakah hukum adat di Indonesia terutama pada Suku Nuaulu bertentangan dengan hukum Islam yang berlaku. Atau justru sebaliknya banyak persamaan antara hukum adat Suku Nuaulu dengan penegakan hukum Islam. Adapun metode yang digunakan untuk menemukan jawaban terhadap permasalahan tersebut adalah metode penelitian lapangan (field research). Sifat penelitian ini adalah research development dengan menggunakan cara deskriptif. Hasil penelitian menjelaskan bahwa ajaran Islam tidak menganut paham menstrual tabu, sebaliknya berupaya mengikis tradisi dan mitos masyarakat sebelumnya yang memberikan beban berat terhadap kaum perempuan. Seperti mitos perempuan haid seolah-olah tidak dipandang dan diperlakukan sebagai manusia, karena selain harus diasingkan juga harus melakukan berbagai kegiatan ritual yang berat. Sedangkan alasan diasingkan dalam Hukum adat Suku Nuaulu yaitu darah menstruasi dianggap kotoran atau najis yang dapat menimbulkan bencana atau penyakit, demikian sehingga gadis yang mengalami menstruasi dilarang memasuki, memegang alat-alat masak, makan dan bercampur atau tinggal bersama orang tua maupun dengan orang lain. Darah menstruasi tidak boleh tumpah di rumah tempat orang tua mereka tinggal karena darah tersebut akan menghalangi masuknya roh-roh para leluhur di dalam rumah mereka. Oleh karena itu, mengapa perempuan tersebut diasingkan karena mereka dianggap menghalangi datangnya roh-roh para leluhur ke dalam rumah. div

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing: 1. Drs. Abd Halim, M.Hum. 2. Sri Wahyuni, S.Ag., M.Ag., M. Hum.
Uncontrolled Keywords: menstrual, tabu, perempuan suku Nualu, Desa Sepa Kab. Maluku Tengah
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Last Modified: 04 May 2012 16:49
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/6202

Actions (login required)

View Item View Item