MENYINGKAP AL MANSUR, SI PEMENANG (Awal Kejatuhan Daulah Bani Umayyah di Spanyol)

DRS. HUSAIN HAIKAL, M.A, (2008) MENYINGKAP AL MANSUR, SI PEMENANG (Awal Kejatuhan Daulah Bani Umayyah di Spanyol). /Jurnal/Al-Jamiah/Al-Jamiah No. 30 Th. 1983/.

Full text not available from this repository.

Abstract

bI. Masa Al Hakam II, Khalifah Sarjana, (al Jamiah No. 29, th. 1983), secara ringkas telah diungkapkan salah satu masa keemasan, single de ore dari kaum Muslimin di Andalusia, Spanyol. Sebagai kelompok kecil di tengah-tengah mayoritas pemeluk nasrani, kaum Muslimin pada waktu itu telah berhasil membuktikan diri mereka sebagai creative minority, kelompok kecil yang kreatif. Mereka telah membaktikan seluruh hidup mereka dengan kerja keras tanpa mengenallelah bagi tegaknya panji-panji Islam, sebagaimana dilihat antara lain dalam bidang ilmu, teknologi, dan arsitektur yang telah mereka wariskan. Ini dibuktikan oleh hampir setiap penduduk Spanyol pada waktu itu telah dapat membaca dan menulis, sedang pada masa yang sama bagian Eropa yang lain tengah tertidur dalam abad tengah, abad kegelapan; para penguasa tertinggi, para raja Eropa pada waktu itu masih sulit untuk dapat menuliskan nama merka sendiri. Dalam bidang teknologi, umat Islam waktu itu telah mampu membangun dan mengembangkan jaringan pengairan, irigasi, yang berhasil menyuburkan lahan-lahan pertanian yang gersang yang memberikan kemakmuran dengan hasil-hasil pertanian yang beraneka ragam dan berlimpah ruah. Mereka juga dapat membangun dan mengembangkan jaringan jalan-jalan dan memberikan keamanan bagi seluruh rakyat, serta memprerlancar komunikasi dan perdagangan; sedang dalam waktu yang sama jalan-jalan di jantung kota London masih penuh lumpur, lebih-lebih pada waktu hujan. Mereka juga telah berhasil mendirikan berbagai istana, rumah sakit, maupun gedung-gedung perpustakaan. Alhambra menjadi salah satu bukti puncak arsitektur Muslim pada waktu itu. Kaum Muslimi yang kecil dan penuh kreativitas serta menjalankan aqidah Islam sebaik-baiknya dan berpihak pada golongan dhuafa, kaum lemah, telah melahirkan masa keemasan yang belum pernah dialami Spanyol baik sebelum maupun sesudahnya. Serba kelebihan Spanyol pada waktu itu tengah diketengahkan oleh salah seorang cendekiawan non-Muslim, Stanley Lane-Poole : For nearly eight centuries, under her Mohammaden rulers, Spain set to all Europe a shining example of a civilized and enlightened state. Kehancuran tidak dapat dielakkan bila Islam sekedar tinggal nama saja, tidak pernah diamalkan secara utuh, tetapi sekedar diperalat. Sehebat-hebatnya yang menyebut diri mereka kaum Muslimin, sekedar puas dengan melakukan ibadah seca5ra ritual, tanpa menghayati secara khusyuk. Sebagian dari mereka malah membelakangi aqidah dan akhlak Islam. Terutama yang memegang kekuasaan dan harta, tenggelam dalam berbagai kemewahan dan setiap langkahnya mereka penuh dengan kedhaliman, menjilat yang diatas dan menginjak yang dibawah, Islam mereka sekedar Islam sepuhan, bahkan hati mereka telah berkarat, berkuah kotoran dan bergelimang dosa. Mereka mabuk dengan berbagai ragam minuman keras serta ahli dalam memburu daging-daging gempal, mulus dan montok, sekedar memuaskan erotomanianya, jadilah mereka budak syahwat mereka sendiri. Dalam masa dekadensi ini mudah mereka terjerumus dalam berbagai intrik, serta mudah terjebak dalam berbagai permusuhan dengan sesama Muslim. Mereka saling mementingkan diri dan keluarga mereka sendiri. Mereka lupa pada misi untuk menegakkan panji-panji Islam, sebagai rahmat semesta alam. Akibatnya dengan mudah mereka terusir dari Spanyol. Merupakan contoh dari hal-hal diatas adalah biografi Muhammad ibn Abi AmiAl Mansur.b

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: Menyingkap, Al Mansur, Pemenang, Kejatuhan, Daulah, Bani Umayyah, Spanyol
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Last Modified: 04 May 2012 16:38
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/634

Actions (login required)

View Item View Item