TRADISI HANG WUE DALAM UPACARA KELAHIRAN DI DESA SIRU, KEC.LEMBOR, KAB. MANGGARAI BARAT, NTT

SITI RAHMA - NIM. 07120005 , (2011) TRADISI HANG WUE DALAM UPACARA KELAHIRAN DI DESA SIRU, KEC.LEMBOR, KAB. MANGGARAI BARAT, NTT. Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Agama Islam mengajarkan kepada para pemeluknya untuk melakukan kegiatan-kegiatan ritualistik seperti shalat, puasa, haji dan lain-lain. Begitu juga dalam kepercayaan masyarakat Manggarai terdapat kegiatan-kegiatan ritualistik seperti selamatan yang terwujud dalam sebuah upacara tertentu. Pada dasarnya sebuah upacara itu dilaksanakan dalam rangka untuk menangkal pengaruh buruk dari daya kekuatan gaib yang akan membahayakan bagi kelangsungan kehidupan manusia. Hal ini seperti yang dilakukan oleh masyarakat desa Siru, setiap bayi yang baru lahir mengadakan upacara Hang Wue (kelahiran), dimana bayi berusia tujuh hari. Dengan harapan anak yang baru dilahirkan tersebut senantiasa diberi keselamatan dan perlindungan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan sekaligus untuk mengamalkan ajaran Nabi Muhammad S.A.W. yaitu aqiqah. Keunikan dalam penyambutan upacara Hang Wue di desa Siru, ketika bayi lahir, pada malam harinya orang mengadakan acara wela, yaitu kegiatan begadang dengan diselingi tadarusan yang berlangsung hingga bayi berumur enam hari. Acara ini bertujuan agar bayi yang baru lahir ke dunia senantiasa diberi keselamatan serta terhindar dari gangguan makhluk halus. Acara ini dimulai pukul 18:00 sampai 23:00 WITA. Adapun rumusan masalah yang dibahas adalah: apa yang melatar belakangi masyarakat desa Siru melaksanakan tradisi Hang Wue? Hang (makan) Wue (kacang) makna dari Hang Wue yaitu kebersamaan masyarakat dalam penyambutan bayi yang baru lahir, sehingga upacara Hang Wue merupakan salah satu bentuk ritual yang dikaitkan dengan selamatan bayi, setelah bayi berusia tujuh hari. Upacara Hang Wue ini, tidak terlepasa dari mitos, masyarakat desa Siru masih meyakini apabila upacara Hang Wue tidak dilaksanakan berpengaruh buruk kepada bayi, misalnya bayi sakit, dan menangis. Dengan melaksanakan Hang Wue bersama dengan aqiqah, karena mereka percaya bahwa dengan melaksanakan upacara Hang Wue anak yang baru lahir senantiasa diberi keselamatan dan perlindungan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan sekaligus untuk mengamalkan ajaran Nabi Muhammad S.A.W. yaitu aqiqah. Bagaimana bentuk akulturasi Islam dengan budaya lokal pada tradisi Hang Wue? Masyarakat desa Siru ketika bayi lahir pada malam harinya mengadakan tadarusan berturut-turut samapai berusia enan hari pada hari ketujuh masyarakat Siru melaksanakan upacara Hang Wue diantaranya: penyembelihan kambing, mencukur rambut, pemberian nama pada anak, membaca surah al-Fatihah, an-Nas, al-Falaq, al-Ikhlas dan doa selamat yang dipanjatkan kepada Allah S.W.T. kemudian dalam pelaksanaan upacara Hang Wue tidak terlepas dari unsur Animisme seperti dengan adanya garu/dupa dan Dinamisme dengan meletakkan pisau, paku, atau besi yang berwujud apa saja yang ujungnya di susuki bawang dan diletakkan disisi cabang bayi. Tujuannya adalah agar berbagai makhlukhalus tidak mengganggunya. Faktor-faktor apa yang menyebabkan lestarinya tradisi Hang Wue di desa Siru? Adapun faktornya terdiri dari faktor rohani, kelahiran seorang bayi memiliki makna yang sakral dalam kehidupan sosial masyarakat tradisional, prosesi upacara yang berkaitan dengan daur kehidupan memiliki simbol-simbol dan nilai-nilai religi atau kepercayaan. Dalam ritual Hang Wue ada kepercayaan yang selalu dipegang oleh masyarakat desa Siru, yaitu apabila tidak melaksanakan Hang Wue ada rasa yang tidak nyaman dan ketakutan serta kekhwatiran akibat yang ditimbulkan dari ketidakpatuhan kepada ajaran leluhur yang sudah turun temurun yang dilakukan sejak dulu hingga sekarang. Kemudian faktor ekonomi dalam pelaksanaan upacara Hang Wue dapat dijadikan sebagai tolak ukur bagi masyarakat desa Siru mengenai kondisi status sosisl dan ekonomi (keuangan). Dengan mengadakan upacara Hang Wue dan aqiqah secara bersamaan dapat menghemat biaya yang dikeluarkan sehingga dapat terencana secara maksimal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian budaya dengan jenis penelitian kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data berupa pertanyaan atau keterangan bukan berupa angka, yaitu ucapan atau tulisan dan perilaku yang dapat diamati dari perilaku (subjek). Tahap pengumpulan data meliputi: wawancara, observasi, analisis data, dan laporan penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis, yaitu suatu ilmu yang didalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latarbelakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut. div

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing: Prof. Dr. H . Mundzirin Yusuf, M.Si.
Uncontrolled Keywords: Tradisi Huang Wue, upacara kelahiran
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Last Modified: 04 May 2012 23:50
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/6515

Actions (login required)

View Item View Item
Chat Kak Imum