TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP ASPEK SOSIAL DALAM ESKALASI PERKARA CERAI GUGAT (STUDI PUTUSAN PA SLEMAN TH. 2006-2008)

WANDRA HERIANTO - NIM. 05350076, (2012) TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP ASPEK SOSIAL DALAM ESKALASI PERKARA CERAI GUGAT (STUDI PUTUSAN PA SLEMAN TH. 2006-2008). Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Pertimbangan utama diperbolehkannya perceraian ialah apabila rumah tangga yang telah dibina tidak mungkin dapat dipertahankan lagi, dan dengan dilakukannya perceraian diyakini dapat memperoleh kemaslahatan lebih besar daripada ketika mempertahankan perkawinannya. Dengan demikian perceraian lebih bersifat emergency, yang hanya diperkenankan apabila tidak ada alternatif lain setelah gagal mempertahankan keutuhan keluarga. Berdasarkan dari data PA Sleman tiga tahun terakhir yakni antara tahun 2006-2008 mencapai 1650 perkara cerai gugat, sedangkan yang sudah diputuskan hanya 1440 perkara. Dengan demikian tersisa 210 perkara yang belum terselesaikan. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya angka cerai gugat di Sleman. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: 1) Faktor-faktor sosial apakah yang melatarbelakangi terjadinya eskalasi perkara cerai gugat tahun 2006-2008 di PA Sleman?; 2) Bagaimana Aspek sosial berperan dalam eskalasi cerai gugat di PA Sleman? Penelitian ini merupakan studi perkara cerai gugat di PA Sleman. Data dalam penelitian ini diperoleh berdasarkan hasil dokumentasi dan wawancara yang kemudian difokuskan pada Hakim pembimbing dan responden sebagai sumber yang memberikan informasi tentang tingginya pengajuan cerai gugat di wilayah Sleman. Setelah data terkumpul, kemudian direduksi, disajikan dan diverifikasi, lalu dianalisis secara deskriptik analitik dengan proses berpikir induktif. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa: 1) Maraknya pengajuan perkara cerai gugat tidak semata disebabkan oleh adanya alasan legal, bahwa hukum telah memberikan hak cerai kepada isteri. Melainkan harus dilihat dari faktor pemicunya, yang terbukti lebih didominasi oleh faktor-faktor sosial. Faktor-faktor sosial yang melatarbelakangi terjadinya eskalasi perkara cerai gugat tahun 2006-2008 di PA Sleman adalah faktor ekonomi, tidak ada tanggungjawab, penganiayaan, moral, faktor syiqaq. Fenomena maraknya cerai gugat dapat diartikan sebagai upaya isteri melakukan redefinisi atas eksistensi dirinya sebagai pendamping suami yang selama ini tersubordinasikan oleh sistem sosial patriarkhi. Di samping itu, cerai gugat merupakan bentuk perjuangan melakukan transformasi sistem dan struktur sosial yang tidak adil. Keputusan isteri menggugat cerai, menunjukkan bahwa isteri memiliki otoritas dalam kehidupan rumah tangganya; dan 2) Sleman merupakan representasi dari imbas kehidupan kota wilayah provinsinya yaitu Yogyakarta yang telah terpengaruh oleh budaya modernitas. Pengaruh ini selain ditunjukkan dengan kemajuan fisik, juga memunculkan ekses berupa krisis sosial ekonomi yang disebabkan adanya kesenjangan antara tingginya angka angkatan kerja dengan peluang kerja yang terbatas. Di samping itu, krisis sosial ekonomi tersebut juga menyebabkan pergeseran rata nilai yang menimbulkan sikap permisif masyarakat. Implikasi paling fatal dari krisis sosial ekonomi ini memunculkan disorganisasi keluarga berupa eskalasi cerai gugat. div

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing: 1. Drs. Khalid Zulfa, M.Si. 2. Drs. Supriatna, M.Si.
Uncontrolled Keywords: cerai gugat, eskalasi perkara, krisis sosial
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Last Modified: 04 May 2012 16:51
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/6722

Actions (login required)

View Item View Item