PEMIKIRAN POLITIK HASAN AL-BANNA DAN PENGARUHNYA TERHADAP MESIR TAHUN 1928 - 1949 M.

Mahfud Ihsanudin, NIM: 04121837 (2009) PEMIKIRAN POLITIK HASAN AL-BANNA DAN PENGARUHNYA TERHADAP MESIR TAHUN 1928 - 1949 M. Skripsi thesis, Universitas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[img]
Preview
Text (PEMIKIRAN POLITIK HASAN AL-BANNA DAN PENGARUHNYA TERHADAP MESIR TAHUN 1928 - 1949 M.)
BAB I,V.pdf - Published Version

Download (688kB) | Preview
[img] Text (PEMIKIRAN POLITIK HASAN AL-BANNA DAN PENGARUHNYA TERHADAP MESIR TAHUN 1928 - 1949 M.)
BAB II,III,IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (281kB)

Abstract

Kedatangan Napoleon Bonaparte ke Mesir Juli 1798 menjadi satu peristiwa penting yang menandai terbitnya zaman baru dalam berbagai bidang, yang sepenuhnya berbeda dengan masa lalu. Dengan alasan untuk menghukum para penguasa Mamluk yang menurutnya sebagai Muslim yang tidak baik, akan tetapi tujuan utamanya adalah, ia ingin menguasai dunia, dengan tawaran-tawarannya yang seolah-olah ingin menyelamatkan negeri tersebut. Sambil membawa perlengkapan lain, Napoleon juga membawa mesin cetak berbahasa Arab yang ia rampas dari Vatikan, kemudian ia membawanya ke Kairo. Kedatangan Napoleon ke Mesir ini merupakan babak baru perubahan yang ada di Mesir, pengaruh Barat mulai masuk dan berpengaruh di berbagai aspek kehidupan. Begitu juga dengan permainan politik yang ada di negeri itu. Mesir modern mengalami pergulatan sosial dan politik yang panjang, masa ini terjadi sekitar tahun1920-an setelah Revolusi 1919. Mesir berkali-kali mengalami pergantian rezim kekuasaan, hingga saatnya Ingris masuk dan mendirikan pemerintahan boneka yang berupa struktur kerajaan, sebagai sarana eksploitasi sumber daya alam Mesir untuk kepentingan kapitalis. Mesir merupakan bagaian dari wilayah kehkalifahan Utsmani, Mesir mempertahankan identitas politik dan karakternya sendiri. Di bawah kepentingan Muhammad Ali Pasha ( 1805-1849) Mesir mengalami sekulerisasi secara struktural, yaitu pemisahan secara tegas antara struktur keagamaan dan negara. Penguasa Mesir itu membuat keputusan yang memisahkan agama dan negara dengan menyerang aktivitas politik dari para ulama'. Kelahirian Hasan al-Banna pada tahun 1906 bertepatan dengan semakin rapuhnya khilâfah Islam Turki Utsmani, khilâfah Islâmiyah terakhir yang menandai berahirnya kekhalifahan Islam. Ia tumbuh sebagai pemuda seperti halnya pemuda saat itu, sekolah, organisasi, juga mengaji, bahkan ia juga menjadi guru di sebuah sekolahan di Isma'iliyah, Mesir. Ayahnya seorang ulama’ yang juga berpropesi sebagai seorang reparasi jam. Penjajahan Barat atas dunia Islam membawa dampak terhadap menjamurnya paham sekulerisme di negeri-negeri muslim. Demikian pula halnya dengan para ilmuan dan cendikiawan yang selalu dicekoki pemikiran sekulerisme dari Barat tersebut, mereka yang sukarela menjadi kaki tangan penjajah untuk menjajakan pemikiran mereka, mereka mengatakan agama adalah urusan pribadi, siapa yang ingin maju maka tinggalkanlah simbol-simbol keagamaan. Sementara itu di kalangan gerakan Islam, berkembang pemikiran yang persial, seperti halnya yang terjadi pada Jamâ’ah al-Anshâr as-Sunnah yang lebih mengedepankan sisi aqidah, Jam'îyyah as-Syar'iyah gerakan ini lebih fokus pada masalah ibadah, Hizbut at-Tahrîr yang lebih banyak memperhatikan masalah politik, dan masih banyak lagi gerakan-gerakan Islam lainnya yang hanya fokus pada suatu kegiatan saja. Hasan al-Banna tidak mau

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: Sejarah Peradaban / Kebudayaan Islam
Divisions: Fakultas Adab dan Ilmu Budaya > Sejarah Kebudayaan Islam (S1)
Depositing User / Editor: S.kom Fatchul Hijrih
Date Deposited: 15 Aug 2012 11:06
Last Modified: 03 Aug 2015 06:57
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/6799

Actions (login required)

View Item View Item