ASAL-USUL HADIS MENURUT HERBERT BERG (Analisis atas Hadis-Hadis Ibn ‘Abbas di dalam Tafsir al-Tabari)

FAHMI RIADY, NIM. 05213456 (2007) ASAL-USUL HADIS MENURUT HERBERT BERG (Analisis atas Hadis-Hadis Ibn ‘Abbas di dalam Tafsir al-Tabari). Masters thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[img]
Preview
Text (ASAL-USUL HADIS MENURUT HERBERT BERG (Analisis atas Hadis-Hadis Ibn ‘Abbas di dalam Tafsir al-Tabari))
BAB I, V.pdf - Published Version

Download (387kB) | Preview
[img] Text (ASAL-USUL HADIS MENURUT HERBERT BERG (Analisis atas Hadis-Hadis Ibn ‘Abbas di dalam Tafsir al-Tabari))
BAB II, III, IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (793kB)

Abstract

Pertanyaan tentang kapan, siapa dan di mana hadis dibuat, merupakan paradigma yang ditanamkan oleh sarjana Barat dalam mengkaji warisan Islam klasik. Mereka memandang bahwa persoalan otentisitas merupakan objek kajian yang masih harus dan terus diperdebatkan. Dengan pendekatan yang sangat kontras dengan sarjana-sarjana Muslim, mereka berhasil melahirkan karya-karya kontroversial di bidang hadis. Goldziher misalnya, setelah melakukan kajian atas perkembangan hadis, dia menyimpulkan bahwa sebagian besar hadis yang terdapat di dalam himpunan kitab kanonik lebih banyak memunculkan keraguan daripada keyakinan yang optimistik. Bagi Goldziher, hadis-hadis tersebut tidak dapat dipandang sebagai dokumen sejarah perkembangan Islam, akan tetapi hanya sebagai refleksi tendensius yang muncul belakangan dalam bidang agama, sejarah, sosial serta lainnya pada abad kedua dan ketiga Hijrah. Kesimpulan oldziher ini kemudian diamini oleh Schacht yang concern pada perkembangan hukum Islam. Baginya, hadis merupakan produk paruh abad kedua, dan isnad sebagai jaminan akan ketersambungan matan merupakan rekayasa yang diproyeksikan oleh orang-orang sesudahnya sampai kepada Nabi. Kesimpulan yang kontroversial ini mendapat reaksi keras dari para sarjana yang meyakini bahwa hadis otentik berasal dari Nabi. Abbott, Sezgin, dan Azami, secara sepakat mengatakan bahwa sejak masa sahabat pentransmisian hadis secara oral dan tertulis sudah dilakukan. Bagi mereka, hadis-hadis -terutama yang terdapat di dalam enam kitab kanonikmerupakan bagian dari proses panjang tersebut. Tidak seperti kedua kelompok sarjana yang saling berseberangan di atas, kelompok ketiga atau mereka yang mencari posisi tengah, dalam penelitiannya, mencoba melepaskan segala asumsi mengenai kualitas hadis. Mereka meyelidiki satu-persatu hipotesis yang mereka tetapkan. Bagi Juynboll, sejak awal para sahabat sudah merekam segala sesuatu mengenai kepribadian Nabi, hanya saja menurutnya belum ada fakta yang mendukung bahwa rekaman tersebut dipraktikkan dalam skala besar. Dari hasil penelitiannya, Motzki berkesimpulan bahwa isnad yang diatribusikan oleh ‘Abd al-Razzaq kepada generasi sebelumnya hingga pada masa sahabat, layak dipercaya. Adanya beragam pandangan tersebut di atas memicu Herbert Berg untuk melakukan kajian ulang dan berusaha mengklasifikasikan pandanganpandangan tersebut berserta para tokohnya ke dalam kelompok-kelompok yang diistilahkannya dengan kategori: skeptis, sanguine (non-skeptis), dan middle ground. Berdasarkan prior research yang dilakukannya, Berg menilai, bahwa meskipun realitanya kelompok-kelompok itu terbagi tiga, akan tetapi pada hakikatnya yang ada hanya dua kelompok, yaitu kelompok skeptis dan sanguine. Adapun mereka yang berusaha mencari posisi middle ground, jika dilihat dari kecenderungan dan hasil penelitian mereka, maka sebenarnya mereka merupakan bagian dari dua kelompok yang saling berseberangan tersebut. Setelah menertibkan lalu-lintas pemikiran para sarjana mengenai asal-usul dan otentisitas hadis, Berg kemudian mencoba urun rembuk untuk memecahkan persoalan yang digadang-gadang-kan oleh kelompok skeptis mengenai asal-usul hadis. Adakah hadis-hadis tersebut merupakan produk generasi sahabat di masa Nabi, ataukah ia hanya merupakan refleksi tendensius seperti yang dinyatakan oleh Goldziher? Untuk menjawabnya, Berg memulai dengan memutar haluan pendekatan. Jika selama ini para sarjana berdebat mengenai hadis secara umum, maka Berg berusaha menganalisis hadis-hadis tafsir dari ibn ‘Abbas yang terdapat di dalam kita tafsir al-Tabari. Dengan meminjam teori exegetical device yang digagas oleh Wansbrough, Berg mencoba untuk menemukan stylistic fingerprint atau sidik jari Ibn ‘Abbas pada isnad-isnad yang menjadi mata rantai penghubung Ibn ‘Abbas dengan al-Tabari. Di dalam analisisnya, Berg mencantumkan beberapa nama murid Ibn ‘Abbas yang meriwayatkan hadis darinya. Agar sidik jari Ibn ‘Abbas sampai pada al-Tabari, Berg juga memasukkan namanama mereka yang menjadi informan al-Tabari. Para informan ini dipilih Berg berdasarkan hubungan overlap mereka dengan murid-murid Ibn ‘Abbas. Langkah berikutnya, setelah memastikan keterjalinan hubungan dari Ibn ‘Abbas hingga informan al-Tabari, Berg kemudian mengeluarkan seluruh exegetical device yang terdapat di dalam matan hadis yang disandarkan pada Ibn ‘Abbas. Dari sekian hadis yang diteliti, Berg kemudian menghitung penggunaan exegetical device oleh masing-masing level; pertama, level Ibn ‘Abbas, kedua, murid-murid Ibn ‘Abbas, dan ketiga, informan-informan al- Tabari. Pengkalkulasian ini dimaksudkan oleh Berg untuk menguji konsisten tidaknya penggunaan exegetical device oleh ketiga level tersebut. Jika konsisten, maka dinyatakanlah bahwa hadis beserta isn>dnya otentik berasal dari Ibn ‘Abbs. Akan tetapi jika tidak, maka kemungkinan besar isnadberserta hadis yang disandarkan pada Ibn ‘Abbas adalah palsu. Berdasarkan uji konsistensi yang dilakukan oleh Berg atas sidik jari Ibn ‘Abbas yang terdapat di dalam riwayat murid-murid Ibn ‘Abbas dan informan-informan al-Tabari, Berg menyimpulkan bahwa hadis-hadis tafsir yang terdapat di dalam kitab tafsir al-Tabari adalah tidak otentik berasal dari Ibn ‘Abbas. Berg memperkirakan bahwa hadis-hadis tafsir tersebut merupakan produk dari generasi sesudah murid-murid Ibn ‘Abbas. Adapun isnadnya menurut Berg dibuat kira-kira pada masa sesudah al-Syafi‘i (w.204/820). Jikapun ada hadis-hadis yang otentik, ia akan sangat sulit untuk ditemukan, karena materi yang asli menurut Berg sudah mengalami penambahan dan pengadaptasian.

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing : Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, MA
Uncontrolled Keywords: ASAL-USUL, HADIS MENURUT HERBERT BERG, Analisis atas Hadis-Hadis, Ibn ‘Abbas, Tafsir al-Tabari
Subjects: Aqidah Filsafat
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta > Aqidah Filsafat
Divisions: Pascasarjana > Thesis > Agama dan Filsafat
Depositing User / Editor: S.kom Fatchul Hijrih
Date Deposited: 23 Jan 2013 10:54
Last Modified: 15 Apr 2015 01:17
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/6815

Actions (login required)

View Item View Item