ZUHUD MASA AWAL (PERSPEKTIF SOSIO-HISTORIS)

SANTOSA ‘IRFAAN, NIM. 06212476 (2008) ZUHUD MASA AWAL (PERSPEKTIF SOSIO-HISTORIS). Masters thesis, UIN Sunan Kalijaga.

[img]
Preview
Text (ZUHUD MASA AWAL (PERSPEKTIF SOSIO-HISTORIS))
BAB I & BAB VII.pdf - Published Version

Download (651kB) | Preview
[img] Text (ZUHUD MASA AWAL (PERSPEKTIF SOSIO-HISTORIS))
BAB II, III, IV, V, VI.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Zuhud atau kehidupan sederhana dalam pengertian yang luas, merupakan bagian akhlak karimah dan memang pernah dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad dan para shahabat. Penelitian ini didorong oleh belum banyaknya umat Islam, terutama di Indonesia, yang memahami sisi historisitasnya. Yang banyak diketahui aspek normatifitas zuhud. Di lain pihak, penulisan tesis ini berangkat dari jarang terangkatnya aspek sosio-historis tentang zuhud, lebih-lebih pada zuhud masa awal. Permasalahan yang muncul, belum ada buku yang secara khusus membahas tentang aspek sosio-historis yang melatarbelakangi kemunculan zuhud, kecuali secara sporadis, terpencar-pencar, tidak terintegrasi. Itupun hanya sekilas saja. Penelitian ini, penelitian kepustakaan. Data yang terkumpul, selain al-Qur’an dan al-Sunnah, hanya buku atau keterangan tentang ketiga tokoh representatif pada zamannya. Mengapa? Karena ternyata ketiga tokoh tersebut, tidak meninggalkan karya tulis yang dapat langsung diteliti. Sedangkan pendekatan yang dipakai, selain analisis deskriptis, juga menggunakan pendekatan sosio-historis yang meliputi aspek ekonomi, politik, sejarah dan filosofis. Hasil temuan tulisan ini, masa shahabat direpresentasikan oleh Abû Dzarr al-Ghiffâry, yang sudah masuk Islam, sebelum da’wah Islam dilakukan secara terangterangan dan banyak bergaul dengan Nabi Muhammad, sesudah hijrah ke Yatsrib. Sesudah Nabi Muhammad wafat, pada masa Khalîfah ‘Utsman bin ‘Affan dia melihat banyak orang terkecoh oleh kehidupan ekonomi yang makin membaik, terutama di Damaskus, yang pernah dikuasai oleh Kristen Romawi, dalam waktu yang lama sekali. Dengan tidak segan-segan, dia memrotes dan menasehati orang-orang, terutama pengambil keputusan dan orang kaya yang menimbun harta, untuk hidup sederhana seperti Nabi Muhammad, setidaknya jangan sampai menimbun harta, tetapi menginfakkan dan menshadaqahkan kekayaannya, kepada para fakir miskin. Sedangkan Hasan Bashry mewakili kehidupan masa tâbi’în, di mana masalahnya sudah bertambah, akibat ekses kehidupan sosial politik. Dia pernah ix bergaul dengan banyak shahabat, hingga memudahkan nasehatnya kepada orang lain, sebagai protes latent terhadap ketimpangan sosial politik, agar menyandarkan pada kehidupan Nabi Muhammad dan para shahabat. Konsepsinya al-Khawf wa al-Rajâ’. Adapun Râbi’ah al-‘Adawiyyah justru secara tidak langsung memrotes harapan pahala dan perolehan dosa, yang telah digagas lebih dulu oleh Hasan Bashry, kecuali kerinduan dan al-Mahabbahnya, yang ingin melihat ‘keindahan wajah Allah’. Pengabaian janji surga dan ancaman neraka ini, dinilai sebagai masa transisi pada kehidupan tasawuf abad III dan IV H, lebih-lebih pada tasawuf falsafati. Dengan mengetahui aspek sosio-historis yang melatarbelakangi kemunculan zuhud masa awal, akan memudahkan kita mengetahui peluang pendalaman studi tentang Tasawuf, sebagai bagian integral dari disiplin ilmu-ilmu keislaman. Bagi pelaku amalan tasawuf, diharapkan akan menambah keyakinan dan kuantitas serta kualitas peribadatannya, dengan tetap peduli terhadap lingkungan sosialnya, sebagai perwujudan habl min al-nâs.

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing: Dr. Syaifan Nur, M.A
Uncontrolled Keywords: ZUHUD MASA AWAL, PERSPEKTIF SOSIO-HISTORIS
Subjects: Aqidah Filsafat
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta > Aqidah Filsafat
Divisions: Pascasarjana > Thesis > Agama dan Filsafat
Depositing User / Editor: S.kom Fatchul Hijrih
Date Deposited: 04 Feb 2013 13:54
Last Modified: 15 Apr 2015 02:36
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/6842

Actions (login required)

View Item View Item