KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF HANNAH ARENDT

SITI JAMILAH, NIM. 07212505 (2010) KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF HANNAH ARENDT. Masters thesis, UIN Sunan Kalijaga.

[img]
Preview
Text (KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF HANNAH ARENDT)
BAB I,V.pdf - Published Version

Download (511kB) | Preview
[img] Text (KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF HANNAH ARENDT)
BABII,III,IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (338kB)

Abstract

Hal yang paling mengejutkan dalam satu dasa warsa terakhir di negeri ini adalah maraknya kekerasan yang meskipun tidak bisa sepenuhnya dikatakan bahwa penyebab utamanya adalah agama karena tentu juga sangat erat kaitannya dengan faktor ekonomi, sosial dan kontalasi politik nasional. Akan tetapi, legitimasi agama terasa sangat kental seperti dalam aksi-aksi terorisme, konflik antarpenganut agama, bahkan antarsatu agama yang berbeda aliran seperti kasus kekerasan terhadap jama’ah Ahmadiyah yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang ‘mengatasnamakan’ umat Islam Indonesia. Ironisnya, fenomena semacam ini kian tumbuh subur di tengah berseminya pula kesadaran akan pentingnya pluralitas, keberagamaan yang lebih inklusif, dan prinsip-prinsip egaliter lainnya. Hannah Arendt yang berangkat dari pengalamannya sebagai bagian dari saksi sekaligus korban keberingasan gerakan-gerakan totaliter pada Perang Dunia kedua, banyak mengelaborasi fenomena tersebut. Ia dikenal sebagai pemikir besar abad ke-20 khususnya dalam bidang filsafat politik dengan teori-teorinya tentang kekerasan, banalitas kejahatan (banality of evil), ruang publik dan ruang privat dinilai penulis cukup dekat untuk membaca kekerasan dengan motif agama yang terjadi di Indonesia khususnya terkait dengan terorisme dan kasus kekerasan terhadap jama’ah Ahmadiyah yang masih terjadi hingga kini. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat latar belakang terjadinya kekerasan atas nama agama di Indonesia dan bagaimana pandangan filosofis Hannah Arendt tentang fenomena tersebut. Dengan pendekatan filosofis, kasus-kasus kekerasan di atas dapat terurai dan dilacak penyebabnya. Berangkat dari keyakinan bahwa agama seharusnya berfungsi sebagai perekat bagi semua umat manusia, dan bukan instrumen penebat teror dan kekerasan, maka ada ‘sesuatu’ dari agama yang telah keluar dari koridornya. Agama hanyalah identitas dan bukan subjek, penganutnyalah yang menjadi subjek dalam hal ini. Karena itu, nilai agama terekspresikan bukan dari agama sebagai entitasnya tetapi dari tindakan pemeluk agama itu sendiri. Karena itu, menurut Arendt kekerasan dan kejahatan bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja (given) tetapi bisa dihindari dan berada dalam kerangka epistemologis yaitu kedangkalan berpikir. Masuknya agama dalam ranah publik — yang seharusnya dalam ruang privat karena agama tidak menjadi pra-syarat untuk menentukan warga negara, sebagaimana etnis juga demikian — dalam bentuk dijadikannya legitimasi untuk mengambil keputusan publik menjadi salah satu pemicu terjadinya kekerasan. Dengan kondisi keberagaman etnis dan agama di Indonesia, penerimaan terhadap pluralitas seharusnya menjadi sebuah keharusan bagi setiap warga negara agar peristiwa kekerasan yang dipicu oleh perbedaan paham keagamaan dapat dihindari dan tidak lagi mengkristal sebagaimana yang kerap terjadi akhir-akhir ini.

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing: Dr. Alim Roswantoro, M.Ag
Uncontrolled Keywords: KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA, INDONESIA, PERSPEKTIF HANNAH ARENDT
Subjects: Aqidah Filsafat
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta > Aqidah Filsafat
Divisions: Pascasarjana > Thesis > Agama dan Filsafat
Depositing User / Editor: S.kom Fatchul Hijrih
Date Deposited: 11 Feb 2013 15:03
Last Modified: 15 Apr 2015 07:12
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/6847

Actions (login required)

View Item View Item