PENGAGUNGAN ASMA ALLAH DALAM AL-QUR’AN (Kajian Sosiolinguistik dalam Tafsir al-Qur’an Bahasa Jawi Karya Mohammad Adnan)

ABDURRAHMAN ABU HANIF, NIM. 09530002 (2013) PENGAGUNGAN ASMA ALLAH DALAM AL-QUR’AN (Kajian Sosiolinguistik dalam Tafsir al-Qur’an Bahasa Jawi Karya Mohammad Adnan). Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA.

[img]
Preview
Text (PENGAGUNGAN ASMA ALLAH DALAM AL-QUR’AN (Kajian Sosiolinguistik dalam Tafsir al-Qur’an Bahasa Jawi Karya Mohammad Adnan))
BAB I, V, DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (2MB) | Preview
[img] Text (PENGAGUNGAN ASMA ALLAH DALAM AL-QUR’AN (Kajian Sosiolinguistik dalam Tafsir al-Qur’an Bahasa Jawi Karya Mohammad Adnan))
BAB II, III, IV.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (584kB)

Abstract

Indonesia merupakan negara multikultural dan multi language, sesuai dengan ciri khas masing-masing daerah yang ada. Budaya Jawa contohnya, memiliki stratifikasi sosial yang selalu dilestarikan atau sering disebut unggah ungguh, dimana ada tata aturan yang mengharuskan bersikap andab asor sebagaimana yang ada dalam masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa memiliki aturan dalam berbahasa ataupun berkomunikasi yang disebut dengan undhak undhuk basa. Dalam aturan ini, terdapat tiga bentuk utama variasi tingkatan yang banyak dikenal dan masih digunakan di kalangan masyakat Jawa yaitu, ngoko (‘kasar’), madya (‘biasa’), dan krama (‘halus’). Di antara masing-masing bentuk ini terdapat bentuk ‘penghormatan’ (ngajengake, honorific) dan ‘perendahan’ (ngasorake, humilific). Begitu pula dalam tafsir bahasa Jawa, Mohammad Adnan dengan tafsir bahasa Jawinya seperti yang diangkat dalam penelitian ini, mengfungsikan kaidah tata aturan bahasa pada masyarakat Jawa tersebut, nuansa tersebut dapat terlihat khususnya dalam ayat-ayat pengagungan asma Allah, terlebih ketika yang bersangkutan adalah Dzat yang dianggap paling tinggi yaitu Allah swt, maka ada kaidah atau bentuk bahasa yang digunakan dalam tafsir tersebut. Masyarakat Jawa, dalam pengungkapan kepada pihak yang dianggap lebih tinggi dengan menggunakan bentuk krama inggil akan lebih merasakan nuansa pengagungan yang ada dalam ayat-ayat al-Qur’an. Maka sesuai dengan tujuan Mufasir dalam menafsirkan al-Qur’an adalah agar mudah dipahami dan diserap makna yang terkandung dalam al-Qur’an, Masyarakat Jawa dengan identitas bahasa Jawa, tentu akan lebih dapat memahami suatu penyampaian atau penjelasan yang menggunakan bahasa Jawa, sebab nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan lebih mudah diserap dengan identitas bahasa masing-masing dalam suatu daerah. Dalam al-Qur’an, khususnya surat al-Fatihah dan al-Baqarah ditemukan 73 ayat yang mengindikasikan adanya unsur pengagungan kepada Allah. Jumlah itu didapat dengan menggunakan pencarian dengan tiga diksi yaitu, “___¸ ___¸ dan __”, dengan segala signifikansinya yang dianalisis dengan pendekatan baru dalam khazanah ulumu ‘al-Quran yaitu pendekatan sosiolinguistik maka disimpulkan bahwa diksi yang digunakan dalam tafsir tersebut nampak khas dan variatif. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam menentukan pilihan kata yang tepat untuk mengungkapkan kebesaran Allah swt, khususnya dalam bahasa Jawa. Termasuk ketika digunakan untuk menerjemahkan atau menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan strata yang ada pada masyarakat Jawa sebagai ungkapan untuk bersikap rendah dan bersyukur kepada Allah swt.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: Tafsir Hadist
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Tafsir Hadist (S1)
Depositing User / Editor: Miftahul Ulum, S.Kom ------- youtube : ulum virgo -------- Facebook : digilibuin
Date Deposited: 14 May 2013 09:16
Last Modified: 06 Aug 2018 03:56
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/7681

Actions (login required)

View Item View Item