KONSEP QADA’ DAN QADAR (Studi Kritis Penafsiran Muhammad Syahrur Terhadap Ayat-ayat Qada dan Qadar)

/ HIMAWAN FAHMY LABIEB , NIM. 98532719 (2003) KONSEP QADA’ DAN QADAR (Studi Kritis Penafsiran Muhammad Syahrur Terhadap Ayat-ayat Qada dan Qadar). Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA.

[img]
Preview
Text (KONSEP QADA’ DAN QADAR (Studi Kritis Penafsiran Muhammad Syahrur Terhadap Ayat-ayat Qada dan Qadar) )
BAB I. V.pdf - Published Version

Download (1MB) | Preview
[img] Text (KONSEP QADA’ DAN QADAR (Studi Kritis Penafsiran Muhammad Syahrur Terhadap Ayat-ayat Qada dan Qadar) )
BAB II. III. IV.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract

Penafsiran Syahrur atas terma Qad’a’ dan Qadar ini, berawal dan pandangannys terhadap Banl Umayyah yang mendefinisikan kedua terma tersebut digunakan untuk mendapatkan justifikasi serta legitimasi hukum secara syar’i. Rezim tersebut menyalakan bahwa sejak zaman azali telah termaktub dalam ilmu Allah dan diputuskan sebagal Daulab Arab Islam, karenanya ilmu Allah ml harus disoslailsasikan. Pcnerlmaan I3anl Umayyah atas keputusan tersebut merupakan suatu pclaksanean Ilmu Allah ml. Sclanjutnya, hukum mereka ml disebut sebagal qisdar. Sehlngga pengertlan qaIa’dan qadarmenurut Bani Urnayyah adalab; Qada’: Ilmu Allah yang azall Qadar. aplikasi ilmu ml terhadap resiltas. Pengertian kedua terminologi di atas, memposisikan seorang mukmin pada frame menerirna segala sesuatu (kerangka taken for granted), artinya sesuatu yang telah dihasilkan itu pasti telah tertulis sejak awal. Pengertian ml serupa dengan pengertian aliran teologi Jabariyah. Sementara lawan dan allanan Jabariyah ml adalah aliran Qadarlyah mereka mengatakan sebaliknya, yaltu bahwa manusia memiliki kehendak atau kemampuan mutlak atas dirinya tanpa intervensi Tuhan. Perdebatan kedua aliran teologi ini terus berlangsung tanpa menghasilkan sebuah kompromi atau hasil yang tepat, maka muncullah alilran Asy’ariyah yang mencoba untuk mcnengahi atas permasalahan yang terjadi. Asy’ari berpendapat bahwa manusia tidak inerniliki kekuasaan,tetapl manusla mempunyal kasb (usaha). usaha inilah yang menjadikan manusia dapat mengerjakan segala sesuatu tanpa dapat melewati ketentuan Tuhan. Namun dalam kenyataannya, aliran atau paham inipun masih belum maksimal, karena pada prakteknya paham mi lebih cenderung Jabaniyah. Sebetulnya Asy’ani ini muncul setelah Mu’tazilah, dan Asy’ari sendiri adalab seorang Mu’tazllah yang tidak puas dengan ajaran-ajaran Mu’tazilah dan ia banyak menemukan kejanggalan-kejanggalan atasnya. Kemudian Syahrur menawarkan definisi baru yang lebih cernerlang, dengan mendifinisikan Qada’. Aplilkasinya, dan Qada’. Ketetapan Allah yang azali. Definisi Syahrur ini berdasarkan klasifikasilnya terhadap ayat-ayat Qada’ dan Qadar yang terdapat dalam al-Qur’an. Dalam mcnafslrakannya Syahrir tidak mclupakan ayat-ayat yang berkaitan dengan kauniyyah, artinya adalah walaupun manusia memiliki kehendak mutlak atas dirinya, manusia tidak dapat melawan ketentuan hukum alam seperti mati, semua orang pasti akan mati kapanpun, dimanapun. Dan menurut Syahrir, ada empat ayat dalam al-Qur’an yang itu adalah merupakan Qada’Tuhan, yaitu; Q.S. Maryam: 35; Q.S. al-Nahl: 40; Q.S. Yasin: 82; dan Q.S. al-Mu’min: 68. Dari sini, penulis melihat ta’rif Qada’Allah yang dilontarkan di atas tidak melalul perantara apapun, tetapi hal Itu merupakan definisi yang mencabut seluruh kebcbasan manusia, lalu mengajak pada Istislam (serah diri). Dan definisi atas kebebasan mutlak manusla seutuhnya juga tidak cocok, karena kebebasan manusia itu dibatasi oleh hukum slam atau ketentuan mutlak Tuhan, sebagaimana diungkapkan oleh Muhammad Syahrür.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Qada dan Qadar
Subjects: Tafsir Hadist
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Tafsir Hadist (S1)
Depositing User / Editor: Dra. Irhamny
Date Deposited: 10 Oct 2013 05:21
Last Modified: 22 May 2015 01:40
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/9408

Actions (login required)

View Item View Item