KENABIAN MENURUT FAZLUR RAHMAN (Kajian Atas Major Themes of the Qur'an)

RONIEFENDI, NIM.99533042 (2003) KENABIAN MENURUT FAZLUR RAHMAN (Kajian Atas Major Themes of the Qur'an). Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA.

[img]
Preview
Text (KENABIAN MENURUT FAZLUR RAHMAN (Kajian Atas Major Themes of the Qur'an))
BAB I. V.pdf

Download (2MB) | Preview
[img] Text (KENABIAN MENURUT FAZLUR RAHMAN (Kajian Atas Major Themes of the Qur'an))
BAB II. III. IV.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (2MB)

Abstract

Secara garis besar skripsi ini akan menyoroti penafsiran seorang juru bicara neo-modernisme Islam Fazlur Rahman (w.1988) dalam karya tafsir yang pemah ditulisnya pada akhir tahun 70-an. Lebih spesifik skripsi ini mengarahkan pembahasannya pada persoalan kenabian, metodologi penafsirannya -khususnya dalam masalah kenabian- dan korelasi masalah kenabian dengan wahyu. Persoalan kenabian yang menjadi sorotan utama dalam penafsiran Fazlur Rahman menitikberatkan pada pembahasan sosok Muhammad saw. Muhammad saw. -juga Nabi yang lainnya- dipandang tidak berbeda dengan manusia-manusia lainnya, yang memiliki kebutuhan-kebutuhan bersifat manusiawi, lalu di mana letak keistimewaan Muhammad saw. sebagai seorang Nabi? Rahman menjelaskan, justru karena Muhammad saw. sebagai manusia biasalah kemudian dia menjadi istimewa, artinya dia tercipta tidak langsung menjadi seorang Nabi, bahkan dia sendiripun tidak tahu jika akan diangkat menjadi seorang Nabi, hal ini menunjukkan bahwa kenabian merupakan rahasia sekaligus rahmat (kepengasihan) Allah swt. kepada manusia. Urgensi diutusnya seorang Nabi karena manusia belum dewasa dalam berskap sehingga dibutuhkan seorang Nabi yang membawa pcy OSucp cySmr obor bagi aka! manusia untuk dapat berpikir dan bersikap sesuai dengan fitrahnya. Uniknya, Rahman tidak mau terjebak pada penggunaan nalar yang berlebihan dalam memahami ayat-ayat kenabian, maka dia memberi batasan bahwa kemampuan-kemampuan naturalitas Muhammad saw. yang membuatnya seakan-akan dipersiapkan menjadi seorang Nabi harus dipahami sebagai anugerah Tuhan, sebagai ungkapan tertiriggi (religius). Pemahaman Rahman yang demikian, lahir dari metodogi penafsirannya yang kerap dikenal dengan "gerakan ganda" (bolak-balik), yang memposisikan sejarah sebagai bagian terpenting untuk memahami teks. Metodologi penafsirannya ini diupayakan untuk memproduk sebuah penafsiran yang aktual dan kontekstual (sesuai dengan kebutuhan) sehingga dapat diaplikasikan dalam ruang lingkup kekinian. Pesan Tuhan atau wahyu yang dibawa oleh Nabi, merupakan bagian lain dari persoalan kenabian. Rahman melihat adanya korelasi erat antara dua masalah ini (kenabian dan wahyu), sehingga pembahasan keduanya ditempatkan dalam satu bab yang sarna. Wahyu dalam pandangan Rahman merupakan salah satu bayyinit kenabian, belum lengkap seorang Nabi bila tidak membawa sebuah bayyinit, entah itu berbentuk kemampuan-kemampuan supranatural atau teks. Penafsiran Rahman tentang wahyu lebih menitikberatkan pada persoalan transmisi wahyu dari Allah swt. ke Muhammad saw. Rahman melihat, ada istilah lain untuk menyebut perantara Allah swt. dan Muhammad saw yakni "ruh"., Rahman keberatanjika istilah ini dimaknai sebagai malaikat, karena al-Qur'an tidak pernah menjelaskan secara eksplisit bahwa "ruh" tersebut adalah malaikat. Bisa saja malaikat diutus untuk menyampaikan wahyu., tetapi itu bukan menjadi tugas utamanya. Menurutnya, transmisi wahyu tidak terjadi secara verbal tetapi secara inspiratif ide kata-kata, menjadi wajar jika pada dekade 60-an dia berpendapat bahwa aI-Qur'an adalah kalam Allah dan sekaligus perkataan Muhammad saw.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: Tafsir Hadist
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Tafsir Hadist (S1)
Depositing User / Editor: Miftahul Ulum, S.Kom ------- youtube : ulum virgo -------- Facebook : digilibuin
Date Deposited: 09 Dec 2013 06:58
Last Modified: 25 May 2015 03:31
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/9656

Actions (login required)

View Item View Item