DIALOG NABI MUSA DENGAN HAMBA SHALIH (Studi atas Penafsiran Sayyid Qutb tentang Kisah Musa dalam Q.S. al-Kahfi: 60-82)

ALIYAH ROHMAH HAMID, NIM. 98532732 (2003) DIALOG NABI MUSA DENGAN HAMBA SHALIH (Studi atas Penafsiran Sayyid Qutb tentang Kisah Musa dalam Q.S. al-Kahfi: 60-82). Skripsi thesis, PERPUSTAKAAN UIN SUNAN KALIJAGA.

[img]
Preview
Text
BAB I. V.pdf

Download (1MB) | Preview
[img] Text
BAB II. III. IV.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (2MB)

Abstract

DIALOGNABI MOSA DAN HAMBASHALIH (Studi atas Penafsiran Sayyid Qutb tentang Kisah Musil dalam Q.S. al-Kahfi: 60-82) Dialog antara Nabi Musil dengan Hamba shalih yang tertuang dalam Q.S. al-Kahfi: 60-82 adalah salah satu di antara sekian banyak kisah perjalanan Nabi Musil yang diekspos dalam al-Qur'an. Kisah ini memiliki beberapa perbedaan signifikan dibanding dengan pemaparan kisah-kisah yang lain, yaitu tidak adanya detail informasi mengenai tokoh-tokoh maupun setting sejarahnya. Meski demikian, kisah ini mengandung suatu tarbiyyah dan hikmah yang bemilai. Hal tersebut adalah proses mental hingga terbangunnya kesadaran ruhiyyah yang dialami oleh Nabi Miisa ketika ia menyertai Hamba shalih. Proses tersebut adalah suatu hal yang sangat manusiawi dan sangat mungkin terjadi dan dialami pula oleh manusia dalam kesehariannya. Sayyid Qutb tidak mengupas hal-hal atomistik yang simpang siur mengenai peristiwa-peristiwa yang dialami Nabi Miisil, manakala ia menyertai Hamba shalih, sebagaimana para penafsir lain pada umumnya. Menurutnya, rahasia di batik peristiwa itu merupakan hal yang berada di luar jangkauan manusia karena hikmah sesuatu adalah hak Allah. Dalam tafsimya, Sayyid Qutb mengilustrasikan kisah tersebut sebagaimana sebuah drama kehidupan yang menampilkan potongan-potongan adegan dalam babak demi babak. Diawali prolog yang berisi nukilan Q.S. 18:60-82 yang ditulisnya seperti bentuk prosa, pengantar kisah dan pandangan Sayyid Qutb terhadap kisah tersebut, yaitu mencukupkan pada apa yang tercover dalam al-Qur'an saja. Dilanjutkan dengan upaya Nabi Miisa dalam mencari Harnba yang dijanjikan Allah hingga menjabarkan klimaks cerita yaitu terjadi dialog antara keduanya sehingga nampak karakter masing-masing. Nabi Musil dikatakan sebagai seorang yang tempramental dan terbiasa dengan logika formal dan hukum positif sedangkan Hamba shalih tersebut menerima ilmu dan rahmat langsung dari Allah. Perbedaan ini yang menyebabkan ketidaksabaran Nabi Miisa akan hal-hal yang dialaminya ketika menemani Hamba shalih, sekalipun hal itu merupakan ketentuan-Nya. Identifikasi tokoh dalam suatu kisah mengandung upaya memahami tokoh-tokoh melalui dialog mereka sehingga terjadi transformasi pemaharnan secara kreatif yang tidak bisa terlepas dari subyektivitas audiens. Dalam transformasi inilah proses mental dan kesadaran ruhiyyah mulai bertahap terbangun. Kesadaran ini mampu mempengaruhi diri untuk merespon sesuatu dan mengoptimalkan langkah telah diyakini. Sebagai resultan-nya adalah pengenalan terhadap diri sendiri dan terhadap Rabb al- 'AlamTn, kerendahan hati dan kesabaran terhadap segala ketentuan Allah. Kelebihan penafsiran Sayyid Qutb ini terletak pada pendekatan psikologinya yang mengena pada diri audiens dan konsistensinya berpegang pada al-Qur'an sebagai tolak ukur, serta terfokus pada proses mental dan kesadaran ruhiyyah. Adapun kekurangannya adalah pada kecenderungan penafsirannya yang subjektif dan penilaiannya yang positivistik sehingga mungkin sedikit menafikan realitas sosial yang plural dan senantiasa mengalami perkembangan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: nabi musa, dialog, hamba salih
Subjects: Tafsir Hadist
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Tafsir Hadist (S1)
Depositing User / Editor: Edi Prasetya [edi_hoki]
Date Deposited: 18 Dec 2013 04:11
Last Modified: 25 May 2015 01:55
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/9694

Actions (login required)

View Item View Item