HADIS-HADIS DALAM KITAB AL-SALAT (Tela'ah Kritis Atas Hasil Penelitian muhammad Nasir al-din al-Albani)

ASEP ALI ROHMAN, NIM. 99532959 (2003) HADIS-HADIS DALAM KITAB AL-SALAT (Tela'ah Kritis Atas Hasil Penelitian muhammad Nasir al-din al-Albani). Skripsi thesis, PERPUSTAKAAN UIN SUNAN KALIJAGA.

[img]
Preview
Text
BAB I. V.pdf

Download (2MB) | Preview
[img] Text
BAB II. III. IV.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (5MB)

Abstract

Dari sekian banyak hadis-hadis dalam bab shalat atau yang biasa dalam kitab hadis disebut Kitsb al-$alil, temyata di dalamnya tidak semua bisa dijadikan hujjah. Kualitas hadis-hadisnya ada yang ~aIJIIJsampai yang msudii'. Kenyataan ini kurang dirasakan oleh sebagian umat Islam, mengingat pengetahuan dan taqlld kepada mazhab fiqh tertentu. Sehingga banyak hadis­ hadis yang layaknya tidak dilakukan, mereka lakukan, baik untuk pribadi ataupun untuk didakwahkan kepada orang lain. Akhimya mereka tidak bisa membedakan antara hadis yang cja'If dan hadis yang ~aIJIIJ.Ke-taqll~an kepada ulama fiqh dipegangnya dengan kuat. Untuk menjelaskan kualitas hadis-hadis ini telah banyak para ulama yang berusaha melakukannya. Diantara ulama itu ialah Muhammad Nasir al-Di n al­ Albani. Dia telah berusaha memisahkan antara hadis yang cja'If dan yang :;aIJIIJ. Klasifikasi ini tidak terlepas tentunya dari hadis-hadis dalam Kitib al-$alit. Klasifikasi ini terutama dalam kitab Sunan yang empat. Akan tetapi temyata dari sekian banyak hasil penelitian al-Albani itu, tidak sepenuhnya benar menurut persetujuan para ulama. Dalam masalah aZin, yang dimasukkan pada Kitsb al-$alit oleh A~lJlJOal-Sunan misalnya Hadis ini ialah hadis tentang orang yang aZin, dialah orang yang melaksanakan qimat. melalui hadis al-Afri qi. Muhammad Nasir alDr n al-Albiinftelah benar dalam menetapkan hadis ini dengan kualitas cja'If. Namun dalam penjelasannya, ia tidak membandingkan dengan hadis yang dikeluarkan melalui jalan Abdullah bin Zaid. Kekeliruannya tidak pada penetapan hadis, tetapi dalam pengambilan hikmah (sser). Jika dibandingkan, akan terlihat kualitas hadis tentang a:iin yang ditetapkannya {fa'If(yang melalui al-Afrfqij, tidak pada derajat ke-cja'Jf-an yang parah jika dibandingkan dengan hadis yang diriwayatakan oleh Abdulah bin Zaid. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak diantara para imam fiqh yang lebih / menggunakan hadis dari jalan al-Afrf qf daripada hadis yang dikeluarkan oleh Abdullah bin Zaid. Mereka memutuskan bahwa sebaiknya orang yang a:iin ialah juga orang yang melakukan qimal. Kekeliruan al-Albanf akan terlihat ketika ia menetapkan hadis tentang turun dan bangkitl bangun dari sujud. Muhammad Niisir al-Dfn al-Albanf menetapkan hadis yang diriwayatkan oleh Wa'if bin Hujr dengan kualitas cja'If. Ke-cja'If-an itu, menurutnya baik dari segi sanad maupun dari segi meten. Hadis yang diriwayatkan oleh Wa'il ada periwayat yang bemama Syuraik bin Abdillah. Hadis ini pun bertentangan dengan hadis yang lebih kuat. Akan tetapi Muhammad Nasir al-Dfn al-Albani' sesungguhnya kurang teliti. Akibat dari kurangtelitiannya itu berimplikasi pada hasil penelitiannya. Sesungguhnya Syuraik bin Abdillah ketika meriwayatkan hadis ini masih dalam keadaan siqqsh atau paling tidak ssdiiq. Justru hadis dari Abu Hurairah yang dikatakan ~aIJIIJoleh Muhammad Na~ir al­ Dfn al-Albanf ada periwayat yang bemama Abd al-' Azfz al-Darawardi, Dia tidak termasuk pada periwayat yang .~iqqah.Bahkan sebagian ulama kritikus hadis menilainya dcngan penilaian yang negatif. Malan pada hadisnya pun mernpakan tambahan yang salah (bi{il) Jadi keputsan Muhammad Nasir al-Din al-Albani dalam hadis ini terbalik dari yang sebenamya. Yang tidak kalah menarik ketika ia memutuskan hadis tentang keutamaan shalat witir. Hadis itu diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Turmuzf dan Ibn Majah. Ia menetapkan· hadis itu dengan penilaian ganda. Maksudnya adalah ia memasukkannya pada klasifikasi hadis eja'if juga pada klasifikasi hadis $aiJiiJ. Padahal banyak para kritikus hadis, baik yang tergolong tasihul, apalagi yang tasyaddudmenilai hadis ini dengan eja'If. Ke-eja'if-annya terletak pada Abdullah bin Rasyid, sehingga hadis ini ditetapkan sebagai hadis yang terputus (inqiti') sanactnya. Muhammad Nasir al-Dfn al-Albanf menyangkal pendapat itu dengan mengeluarkan syihid hadis dari jalan lain yang kualitasnya lebih kuat. Bahkan Muhammad Nasir al-Din al-Albanl tidak menaikkannya pada derajat iJasan It gairihi. Dari banyaknya syihid itu, ia langsung menetapkan hadis ini pada derajat yang $aiJiiJ. Padahal Muhammad Nasir al-Dfn al-Albanfdalam menetapkan hadis juga mengenal adanya hadis hssen. Muhammad Nasir al-Di n al-Albanf dalam meneliti hadis jika dilihat secara keseIuruhan banyak benamya, namun ia adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: Hadis, kitab Al-salat
Subjects: Tafsir Hadist
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Tafsir Hadist (S1)
Depositing User / Editor: Edi Prasetya [edi_hoki]
Date Deposited: 18 Dec 2013 08:01
Last Modified: 25 May 2015 01:58
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/9701

Actions (login required)

View Item View Item