RITUAL TABUT DI KOTAMADYA BENGKULU

BASUKI RAHMAT, NIM. 97522452 (2003) RITUAL TABUT DI KOTAMADYA BENGKULU. Skripsi thesis, PERPUSTAKAAN UIN SUNAN KALIJAGA.

[img]
Preview
Text
BAB I. V.pdf

Download (2MB) | Preview
[img] Text
BAB II. III. IV.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (3MB)

Abstract

Kultus merupakan sebuah tanggapan yang bersifat mendalam dan integral dari manusia utuh terhadap realitas mutlak. Manifestasi kultus terlihat dalam berbagai bentuk perbuatan keagamaan. Perbuatan keagamaan ini merupakan sebuah perbuatan yang dipandang penting yang dikembangkan melalui kedalaman spiritual menuju suatu kekuasaan yang lebih tinggi. Dalam tingkat kehidupan paling sederhana pun dapat ditemukan adanya perbuatan-perbuatan tertentu yang dapat disebut dengan perbuatan keagamaan. Beragama merupakan .bentuk ekspresi manusia kepada Tuhannya, sedangkan manifestasi dari ekspresi tersebut tertuang dalam bentuk ritual-ritual yang disesuaikan dengan daya nalar, kondisi sosial, kultur, latar belakang dari manusia tersebut dalam mencapai kebenaran Tuhan. Bentuk-bentuk ritual dilaksanakan manusia dalam: mengekspresikan agamanya jika dikaitkan dengan kultur dari manusia dalam mengekspresikan agamanya, dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, tidak bisa lepas dari nilai­ nilai dan norma-norma agama, maupun nilai-nilai yang berasal dari adat istiadat (budaya lokal) karena agama .melahirkan bentuk tindakan tertentu bagi para penganutnya. Begitu juga ritual Tabut di Bengkulu yang dilaksanakan setiap tanggal 1-10 Muharram yang sangat kental dengan nilai-nilai agama dan adat istiadat. Maka untuk melihat lebih dekat dan untuk menggali dasar dari ritual Tabu! ini peneliti menggunakan metode penelitian: metode observasi, metode interview, metode dokumentasi dan metode analisis data. Adapun sifat penelitiannya bersifat deskriptif, yaitu suatu metode yang menggambarkan, menuturkan, menganalisis dan mengklasifikasikan suatu peristiwa. Sedangkan pendekatannya menggunakan pendekatan fenomenologis. Dalam penelitian ini ditemukan beberapa fakta. Ritual Tabut dalam perkembangannya dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menjadikan ritual ini masih tetap tumbuh di masyarakat Bengkulu, diantaranya adalah pemikiran primitif tentang mitos, kebudayaan, pemerintah setempat. Pemikiran ini bermula ketika gugurnya cucu Nabi, yang bemama Husein di padang Karbala karena dibunuh dalam perang yang tak seimbang. Karena tubuhnya terpotong-potong yang ditetnukan oleh para pengikutnya maka turunlah sebuah bangunan aneh yang sangat indah yang disebut dengan Tabut, kemudian diangkatnya badan Husein. Karena pengikutnya begitu setia kepada Husein, maka bergantunganlah para pengikutnya di bangunan itu. Kemudian terdengarlah suara "Kalau kamu sayang sarna Husein, maka buatlah bangunan indah seperti ini setiap tanggal 1-10Muharram". Kebudayaan memiliki dimensi yang luas terhadap berbagai aspek manusia yang berasal dari potensi berpikir dan potensi merasa yang diperoleh dari proses belajar dalam lingkup yang sangat kompleks pengertiannya. Berdasarkan pokok­ pokok kebudayaan, maka ritual Tabut mengandung unsur-unsur kebudayaan yang cukup banyak, antara lain adalah seni ukir, seni arsitektur, seni musik, seni tari dan seni hias. Berdasarkan keterangan di atas jelas bahwa ritual Tabut memiliki nilai-nilai budaya yang tinggi. Pemerintah pun ikut dalam menyemarakkan setiap tahunnya, walaupun bentuknya berbeda dengan Tabut sakral yang adaI7 buah. Kalau pemerintah banyak variasinya, dan tidak ikut di dalam kegiatan yang sakral.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: tabut, budaya, bengkulu
Subjects: Perbandingan Agama
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Perbandingan Agama (S1)
Depositing User / Editor: Edi Prasetya [edi_hoki]
Date Deposited: 19 Dec 2013 08:37
Last Modified: 04 Aug 2016 14:01
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/9705

Actions (login required)

View Item View Item