KEBERTUHANAN MANUSIA DALAM FILSAFAT EKSISTENSIALISME ATEIS F. NIETZSCHE DAN J.P SARTRE

NURIL HIDAYAT, NIM. 98512713 (2013) KEBERTUHANAN MANUSIA DALAM FILSAFAT EKSISTENSIALISME ATEIS F. NIETZSCHE DAN J.P SARTRE. Skripsi thesis, PERPUSTAKAAN UIN SUNAN KALIJAGA.

[img]
Preview
Text
BAB I. V.pdf

Download (1MB) | Preview
[img] Text
BAB II. III. IV.pdf
Restricted to Registered Academicians of UIN Sunan Kalijaga Only

Download (5MB)

Abstract

Filsafat eksistensialisme menilai manusia sebagai pribadi aktif yang dalam kebebasannya mampu menentukan pilihan dan memutuskan apa yang terbaik bagi kehidupannya sendiri tanpa intervensi dari siapapun atau apapun. Dengan potensi­ potensi tersebut manusia bisa melawan arus fakta alam dan berevaluasi. Namun dalam proses kehidupan, manusia tidak bisa melepaskan diri untuk menghadapi faktisitas yang menghadirkan kompleksitas krisis. Dalam pertarungan antara idealisme dan realitas inilah manusia seringkali terkurung dalam penampakan­ penampakan ideal yang sebenarnya menjebak. Kebebasan ternyata bisa saja menjadi penjara dan kehendak bisa saja menjadi bumerang bagi eksistensi manusia sendiri. F. Nietzsche dan Jean Paul Sartre, keduanya adalah filosof eksistensialis yang berupaya memberontak terhadap alienasi manusia dari subyektifitas dirinya, mereka berdua berusaha mengangkat harkat nilai kemanusiaan melalui usaha-usaha penyadaran akan eksistensi manusia. Keduanya sangat menonjolkan ajaran tentang kebebasan dan keagungan bagi manusia, manusia hams sepenuhnya menyadari bahwa segala sesuatu tentang hidupnya bersumber dari dalam dirinya sendiri. Manusia tidak boleh bersandar terhadap segala sesuatu diluar dirinya. Bahkan karena kemandirian manusia, Sartre menegaskan, manusia modern hams menghadapi fakta bahwa Tuhan tidak ada. Sementara itu Nietzsche berupaya "meninggikan" manusia dengan kekuatan yang dimilikinya dan bukan dengan keadilan. Kenyataan hidup yang tidak mudah untuk diterima dan dijalani adalah faktisitas-faktisitas yang justru akan semakin mengkerdilkan manusia jika manusia masih tunduk dan percaya pada hukum kebajikan dan tatanan moral. Karena irulah moral dan kehajikan (yang dalam kehidupan Nietzsche adalah moralitas Kristen) adalah berhala yang hams diberantas, sebab dalam hidup yang diperlukan bukanlah moralitas budak, melainkan moralitas aristokrat, moralitas tuan-tuan yang berkuasa, Hal ini, dalam dunia fiIsafat sendiri mendapat respon balik yang serius, karena dengan tujuan yang mulia untuk meninggikan nilai kemausiaan, ada anggapan bahwa kedua tilosof terse but justru telah mencabut manusia dari akar kemanusiaan. Tersesat dibumi dan tercampak ke dunia tanpa petunjuk. Manusia menjadi kehilangan tujuan, karena kematian Tuhan menimbulkan rasa panik dan putus asa yang tiada tara. Oleh karen a iUI,maka sangat penting untuk mencennati pemikiran kedua tokoh eksistensialisme tersebut, bukan sebagai ajakan untuk menyetujui atau serta merta menolaknya, namun lebih kepada tujuan menelaah secara kritis agar lahir wacana bam dalam memaknai dan menilai arti kemanusiaan yang akhimya tentu saja untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan itu sendiri. Insya Allah.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: manusia, kebertuhanan
Subjects: Aqidah Filsafat
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta > Aqidah Filsafat
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Aqidah Filsafat (S1)
Depositing User / Editor: Edi Prasetya [edi_hoki]
Date Deposited: 19 Dec 2013 08:16
Last Modified: 04 Aug 2016 06:14
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/9721

Actions (login required)

View Item View Item