INJIL DALAM KITAB TAFSIR AL-QUR'AN MODEREN (STUDI KOMPARATIF KITAB TAFSIR i AL-JAWAHIR FI TAFSIR AL-QUR'AN /i KARYA i TANTAWI JAWHARI /i DAN i AL-MANAR /i KARYA MUHAMMAD RASYID RIDA)

HUSNI FITHRIYAWAN - NIM. 03531439, (2008) INJIL DALAM KITAB TAFSIR AL-QUR'AN MODEREN (STUDI KOMPARATIF KITAB TAFSIR i AL-JAWAHIR FI TAFSIR AL-QUR'AN /i KARYA i TANTAWI JAWHARI /i DAN i AL-MANAR /i KARYA MUHAMMAD RASYID RIDA). Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Sumber penafsiran (masadir al-tafsir) pada masa-masa awal Islam dapat dikategorikan menjadi tiga, yakni pertama, bi al-manqul (tafsir bi al-ma'sur); kedua, ijtihad (tafsir bi al-ra'y), dan ketiga, penuturan Ahli Kitab. Sumber penafsiran yang didasarkan kepada interpretasi Nabi saw. atas ayat-ayat al-Qur'an masuk ke dalam kategori pertama. Begitu pula, riwayat-riwayat yang disandarkan pada hasil penafsiran para sahabat dan tabi'in. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa ilmu yang benar adalah ilmu yang didasarkan kepada generasi pendahulu yang sangat terpercaya. Oleh karena itu, mereka menyandarkan pada riwayat verbal yang sahih saja. Sedangkan sumber penafsiran yang masuk ke dalam kategori kedua adalah penafsiran al-Qur'an yang berupa analisis kata-kata al-Qur'an dan maknanya yang didasarkan kepada syair-syair Arab jahili maupun asbab al-nuzul dan didasarkan pada ijtihad (bukan riwayat) seperti yang dilakukan para sahabat seperti ibn amp;#8216;Abbas dan ibn Mas'ud. Sedangkan sumber penafsiran yang masuk kategori ketiga adalah berbagai penafsiran yang disandarkan pada para Ahli Kitab, khususnya yang berkaitan dengan cerita-cerita yang terdapat dalam al-Qur'an. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yakni pertama, adanya kesesuaian antara al-Qur'an dengan Taurat dan Injil di dalam beberapa permasalahan seperti dalam penjelasan kisah-kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu; kedua, metode yang digunakan al-Qur'an di dalam menjelaskan kisah-kisah di dalamnya bersifat global, berbeda dengan Taurat dan Injil yang menjelaskannya dengan lebih terperinci, sehingga para sahabat menganggap perlu untuk bertanya kepada para Ahli Kitab. Meskipun begitu, mereka tidak serta-merta menerima informasi dari para Ahli Kitab tersebut tanpa melakukan kritik terhadapnya. Dalam artian, mereka hanya menerima informasi yang sejalan dengan akidah dan tidak bertentangan dengan al-Qur'an. Tradisi semacam ini juga ditemukan pada masa tabi'in dan masa-masa sesudahnya hingga masa moderen, bahkan telah mengalami perkembangan yang signifikan. Mereka merujuk kepada cerita-cerita israiliyat dalam menafsirkan al-Qur'an yang didorong oleh beberapa faktor, di antaranya adalah banyak kaum Ahli Kitab yang masuk Islam dan munculnya keinginan untuk mengetahui perincian informasi al-Qur'an yang bercerita tentang peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan kaum Yahudi dan Nasrani. Beberapa contoh dapat ditemukan dalam penafsiran al-Tabari dan al-Nasafi. Akan tetapi, tradisi kritisisme terhadap kisah israiliyat semakin memudar. Indikasi dari memudarnya hal tersebut dapat ditemukan ketika seorang mufassir mengutip kisah-kisah israiliyat secara acak dengan tanpa memberikan suatu catatan kritis apa pun seperti penafsiran yang dilakukan oleh al-Khatib al-Syarbini. Hal ini berlanjut hingga muncul para mufassir moderen yang diprakarsai oleh para cendekiawan (asyyakh) al-Azhar yang melakukan kritik sanad dan matn terhadapnya agar umat Islam terhindar dari sesuatu yang tidak jelas dasarnya. Atas dasar itulah, para mufassir moderen seperti Muhammad Rasyid Rida dan Tantawi Jawhari menolak dengan tegas atas penggunaan kisah-kisah israiliyat sebagai sumber penafsiran al-Qur'an dalam masalah-masalah yang mubham (tidak jelas). Sebaliknya, mereka mengutip Injil Barnabas, baik secara literal maupun maknawi, sebagai alternatif karena dianggap quot;sesuai quot; dengan al-Qur'an. Di samping itu, Rasyid Rida juga mengutip Injil Kanonik sebagai sumber penafsiran dan keterangan tambahan bagi pembahasan sebuah tema, baik sebagai penguat pendapatnya maupun sebagai obyek kritiknya. Sebuah hal yang patut dipertanyakan adalah mengapa dia tidak mengakui, secara eksplisit, akan adanya quot;persamaan quot; isi Injil Kanonik dengan al-Qur'an. br br

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Pembimbing: Pembimbing I : Drs. H. Muhammad Yusron, MA. ; Pembimbing II : Dr. Sahiron Syamsuddin, MA.
Uncontrolled Keywords: Injil, Kitab tafsir Al-Qur'an Modern, Muhammad Rasyid Rida
Depositing User / Editor: Users 1 not found.
Last Modified: 04 May 2012 16:40
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/999

Actions (login required)

View Item View Item