%0 Thesis %9 Masters %A NURHIKMAH HAIRAK H. BIGA, S.H.I, NIM 1220310040 %B PASCASARJANA %D 2015 %F digilib:15997 %I UIN SUNAN KALIJAGA %K Keluarga, perceraian, pendidikan tinggi %T PEMBAGIAN PERAN DALAM KELUARGA DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERCERAIAN PASANGAN MUSLIM BERPENDIDIKAN TINGGI %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/15997/ %X Perceraian pada pasangan berpendidikan tinggi tidak berbeda dengan perceraian pada pasangan lainnya. Namun, yang menarik untuk diteliti adalah pembagian peran pada keluarga pasangan berpendidikan tinggi dan pengaruhnya terhadap perceraian. Pefianyaarr*ertarryaafl siapakah yang akan bekerja menafkahi keluarga, bersama dengan anak-anak di rumah, memasakkan makanan bagi keluarga dan lain sebagainya menjadi tugas-tugas keluarga yang menimbulkan kebingungan pada sebagian besm keluarga yang berkarir ganda. Melihat hal itu, pasangan Muslim berpendidikan tinggi bukan tanpa masalah dan bukan tidak rentan terhadap putusnya pernikahan. Penelitian ini adalah penelitian lapangan ($eld research) dengan data primer putusan pengadilan Agama Yogyakarta dan survey pada 10 pasangan menikah dengan latar belakang pendidikan tinggl. Penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif untuk mempelajari pembagian peran dalam keluarga berpendidikan tinggi, masalahmasalatr yang dihadapi sehingga melalnrkan perceraian. Pendekatan dalam penelitian ini adalah Sosiologi Keluarga dengan teori stnrktural fimgsional Parsons dan Bales. Setelah dilakukan penelitian, pembagian peran pada pasangan menikah dengan latar belakang pendidikan tinggi lebih variatif dan modern. Suami berperan isntrumental dan istri berperan ekspresif namun tidak ada batasan bagi peran keduanya. Suami dapat membantu istri dalam peran ekspresifoya begitupula istri membanfu suami dalam perur instrumentalnya.Namun, pada pasangan yang bercerai dengan latar belakang berpendidikan tinggi, perceraian tidak dapat dihindari. I{al ini disebabkan oleh ketidakseimbangan peran yang dibebankan pada anggota keluarga Terjadi kelalaian suami dalam menafkatri, istri yang lalai mengatur pengeluaran keluarga, otoritas suami yang lebih besar dalarn keluarga sehingga istri merasa berada pada kedudukan yang subordinatif. Isti yang menduduki posisi double burden, di tnarra suami tidak memberikan naJkah, istri sebagai pemberi nafkah utama dan tetap menjalankan perannya sebagai pengurus rumahtangga tanpa bantuan suami. Dari 91 kasus perceraian yang menjadi konsentasi peneliti dalam pengumpulan data, peneliti menemukan bahwa perceraian pada pasangan berpendidikan tinggi dipicu oleh beberapa faktor. Faktor-fbktor tersebut yaitu, Economic Problem sebanyak 50% dan dispute sebanyak 50Yo. Economic Problern yafrg dihadapi terbagi pada beberapa alasan (1) Negligence 29Yo: suami yang lalai menaftahi keluarga dan istri yaflglalai mengurus keuangan keluarga. Q) Joblessness lSYo: nafl