%0 Thesis %9 Skripsi %A CHOLIFUDIN ALSYAH, NIM. 12110083 %B Fakultas Adab dan Ilmu Budaya %D 2016 %F digilib:24068 %I UIN Sunan Kalijaga %K AL SHI'R YA WA'IZ AL NAS LI IMAM SHAFI'I, MITHAIL RIFFATERRE %P 64 %T AL SHI'R YA WA'IZ AL NAS LI IMAM SHAFI'I (DIRASAH TAHLILIYYAH SIMAIYYAH LI MITHAIL RIFFATERRE) %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/24068/ %X Skripsi ini berjudul “Puisi “Ya Waa’idz an Naas” Karya Imam Syafi’i Analisis Semiotik Michael Riffaterre”. Puisi ini ditulis oleh seorang penyair terkenal yaitu Imam Syafi’i. Imam Syafi’i merupakan salah satu ulama’ besar yang pandai dalam berbagai macam keilmuan. Di samping kamahiran tersebut, ia juga mahir menguntaikan kata-kata yang tertuang dalam bentuk puisi. Puisi-puisi karya Imam Sayafi’i mengandung makna mendalam tentang suatu nasehat tertentu. Peneliti memilih puisi ini, karena menurut pengamatannya puisi ini mengandung suatu pesan moral yang layak untuk dikaji lebih dalam. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik library research (kajian kepustakaan), diawali dengan pengumpulan data-data yang dibutuhkan untuk menganalisis puisi tersebut. Adapun Teori yang digunakan peneliti adalah teori semiotik yang diusung oleh Michel Riffterre. Teori ini memiliki tujuan untuk menemukan kesatuan makna dalam puisi, sedangkan untuk mendapatkan kesatuan makna yang diinginkan Michael Riffaterre mengemukakan perlulah melewati dua jenjang analisis, yaitu pembacaan heuristik yang didasarkan pada arti kamus, dan pembacaan hermeunetik yang terdiri dari hipogram potensial, matriks, model, dan hipogram aktual. Dan dari dua pembacaan inilah sehingga akan menghasilkan kesatuan makna dari puisi “Yaa Waa‟idz an Naas” karya Imam Sayafi’i. Hasil dari analisis semiotik dengan menggunakan teori Michel Riffaterre ini, adalah bahwa berdasar pada pembacaan heuristik, puisi ini mengungkapkan struktur kebahasaan yang belum menghasilkan kesatuan makna dari puisi, pembacaan ini menghasilkan arti bahasa yang mengacu pada konvensi bahasanya. Dari pembacaan hermeunetik, peneliti menemukan bahwa pada hipogram potensial dijelaskan bahwa puisi ini merupakan suatu pesan dan peringatan bagi setiap insan, hal itu disimbolkan pada tokoh waa‟idz yang digambarkan sebagai lawan bicara penyair. Adapun model terletak pada pada kalimat “tabghi an najaata wa lam tasluk thoriiqotaha inna as safiinata laa tajrii „ala al yabasi”, sedangkan matrik dari puisi tersebut adalah pesan esoterik bagi segenap manusia untuk membenahi diri. Hipogram aktualnya adalah beberapa ayat Al-Qur’an, yaitu Al- Baqoroh ayat 44, Shaff ayat 2-3, dan Surat At- Tahrim ayat 6 dan penggal bait puisi tentang pentingnya membenahi diri karya Abu Aswad ad Dualli. %Z Yulia Nasrul Latifi, S.Ag., M.Hum.