%A . Zuhri
%T Naturalisme Abu Bakr Al-Razi
%X Sejauh pengarnatan penulis, rnernperbincangkan gagasan naturalisrne
dengan filsafat Islam selama ini rnasih langka. Kelangkaan
tersebut bukan karena ketidaktahuan intelektual atau pernerhati
filsafat Islam, namun lebih pada kekhawatiran atau bahkan kemustahilan
rnetode nalar naturalisme ke dalam filsafat Islam karena,
pada umumnya, secara otomatis, Islam nampaknya jauh dari nalar
naturalisme karena naturalisme adalah kesementaraan sementara
filsafat Islam mengusung keabadiaan. Naturalime seperti halnya
evalusionisrne Darwin kemudian menjadi hal yang susah untuk
diperternukan dengan mainstream nalar filsafat Islam. Apakah
demikian kenyataannya? Penulis tidak sepenuhnya yakin karena
ada beberapa tokoh semisal Abu Bakr al-Raz1 dan Ibn Thufail yang
berusaha rnemanfaatkan metode nalar naturalisme untuk mengkaji
dan membahas beberapa topik dalam filsafat Islam.
Untuk membuktikan hipotesis di atas, ada beberapa hal yang
dijdaskan lebih hnjut. Satu hal yang perlu ditekankan di sini
adalah konsep remang naturalisme itu sendiri. Naturalisme berasal
dari bahasa Inggris Natural (kata sifat) yang berarti tentang alam
dan M~ture (alam/alamiah). Konsep naturalisme tiidak sepenuhanya
merupakan konsep filsafat. Naturalisme merupakan teori yang menerima "nature" (alam) sebagai keseluruhan realitas. Istilah
"nature" telah dipakai dalam filsafat dengan bebagai macam
arti, mulai dari dunia fisik yang dapat dilihat oleh man usia, sampai
kepada sistem total dari fenomena ruang dan waktu. Natural adalah
dunia yang diungkapkan kepada kita oleh sains alam. Istilah naturalisme
adalah kebalikan dari supernaturalisme yang mengandung
pandangan duaiistik terhadap alam dengan adanya kekuatan yang
ada ( wujud) di atas a tau di luar alam. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa naturalisme adalah teori yang menerima 'natura'
sebagai keseluruhan realitas dan merupakan unsur peming dalam
proses perkembangan pemikiran.
Secara umum, nalar naturalisme ada yang menekankan
pada dimensi kemanusiaan yang kemudian dikenal dengan istilah
naturalime humanistik dan ada pula nalar naturalisme yang
lebih menekankan pada dimensi materi atau mekanismenya yang
kemudian disebut dengan naturalisme materialistik. Naturalisme
humanistikc adalah pemikiran yang menekankan pada manusia,
berikut kepentingan dan segala hal yang terkait dengan manusia.
Naturalisme humanistik menjadi cara hidup yang bersadarkan
pada dinamika perkembangan kapasitas manusia (Titus, 1984:
306). Naturalisme Humanistik ini kemudian melahirkan gagasan
tentanng konsep humanisme dalam pemikiran filsafat. Semantara
yang dimaksud dengan naturalisme materialistik adalah pemikiran
yang menekankan pada peran dan eksistensi meterialisme bai.~
secara mekanik, maupun sejarah dalam mengusung konsep sejarah
pemikiran.
Naturalisme sendiri mubi banyak digunakan pada abaci
ke-17 dan meng~Jami perkemb~.ngannya yang sangat pesat pada
abad ke-18 Naturallsme berkembang dengan cepat di bidang
sains. Aliran ini, dalam komcks rr,odern, terutama dipdopori o1eh
J.J Rosseau, @suf Perancis yang hid up pJda tahun 1712-]778. Kemudian dilanjutkan oleh Frederick W. Nietszshe dan masih
banyak tokoh lainnya, seperti Charles Darwin yang menggunakan
prinisp-prinsip naturalisme dalam filsafat.
Menempatkan naturalisme sebagai suatu aliran atau madzhab
pemikiran secara umum dibagi ke dalam dua perspekti£ Perspektif
pertama menempatkan konsep naturalisme sebagai suatu tema
kefilsafatan baik secara onotologis maupun epistemologisnya. Perspektif
kedua menempatkan konsep naturalisme sebagai metode
berfikir untuk menjelaskan atau merefleksikan suatu persoalan.
Jelasnya, ".lvlethodological naturalism and philosophical naturalism
are distinguished by the fact that methodological naturalism is an epistemology
as well as a procedural protoco4 while philosophical naturalism
is a metaphysical position." 1 Naturalisme Niestzche, misalnya,
menurut penulis merupakan bentuk naturalisme metodologis. ia
menjelaskan konsep-konsep genealogi moralitas suatu masyarakat
dengan pendekatan atau metode naturalitas. Moralitas masyarakat
modern harus dapat dikembangkan lebih lanjut agar sampai,
pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi lagi (baca: asketis) dengan
menyadari pola-pola bangunan moralitas dalam dirinya baik dalam
konteks historis maupun konteks kekinian.2
Lebih lanjut, sebagai dijelaskan Janawy sebagaimana dikutip
dari Leiter bahwa,
To be methodologically naturalist, philosophical inquiry should
either (a) be supported by, or justified by, the actual results of our best
science in its different domains; or (b) employ or emulate successful,
distinctively scientific ways of understanding and explaining things.
Leiter refers to these as "Results Continuity" and "Methods Continuity"
respectively. Naturalisme methodologis menegaskan bahwa penelitian-penelitian
filosofis hendaknya didukung oleh argumen-argumen aktual
dan ditopang dengan pemahaman keilmuan yang jelas. Kekuatan
tersebut baik pada metode maupun pada hasil yang diajukan. Artinya,
naturalisme mensyaratkan konsistensi metode dan hasil.
Konsistensi dalam ranah metode, dalam konteks yang lain juga
banyak diinspirasikan dari aliran skeptisisme terhadap keyakinan
yang dibangun oleh imaji-imaji, meminjam bahasa Hume, sehingga
para pemikir kemudian mencoba menggunakan pola nalar naturalisme.
Dalam konteks Hume, misalnya,
Hume here reconciles skepticism and naturalism. It is no merely
that skepticism is natural attitude. Rather, the best expression ofskepticism
is one where we follow our nature without pretending we have
an independent justification; in doing so we even contribute to the
advencement ofknowledge.
%K Naturalisme, Abu Bakr Al-Razi
%P 121
%B Filsafat Islam: Trajektori, Pemikiran dan Interpretasi
%D 2015
%C Yogyakarta
%I FA PRESS
%L digilib29296