@mastersthesis{digilib33737,
           month = {February},
           title = {NAHWU DALAM TRADISI SUFI (KAJIAN EPISTEMOLOGI PADA KITAB MANIYATU AL-FAQIR AL-MUTAJARRID WA SIRATU AL-MURID AL-MUTAFARRID)},
          school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA},
          author = {NIM. 1520510072 AIMMATUL MUSLIMAH},
            year = {2018},
            note = {Dr. Zamzam Afandi, M.Ag.,},
        keywords = {Epistemologi, Nahwu, Tasawuf.},
             url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/33737/},
        abstract = {Penelitian ini membahas tentang epistemologi nahwu dalam tradisi sufi
yang fokus kajiannya pada kitab Munyatu al-Faqir al-Mutajarrid wa Siratu al-
Murid al-Mutafarrid. Pembahasan terkait epistemologi merupakan hal yang
fundamental, sebab dari situlah datangnya sumber legitimasi dari konsepkonsep
hukum syariah. Kajian epistemologi nahwu kaum sufi mencoba
mengungkap pandangan-pandangan sufistik tentang nahwu yang pada dasarnya
bukan ladang kajian tasawuf. Akan tetapi, kaum sufi rupanya ingin memiliki
karakteristik nahwu tersendiri sehingga muncullah yang disebut nahwu sufi
(nahwu al-Qulub atau nahwu ahl- al-Isyarah), disusul kemudian munculnya
kitab-kitab syarh terhadap kitab-kitab nahwu dalam perspektif sufistik, seperti
al-Futuhat al-Qudsiyah fi Syarh al-Ajrumiyah, merupakan kitab nahwu sufi
yang ditulis oleh Ahmad bin ?Ujaibah. Kitab tersebut mejadi menarik untuk
dikaji, sebab si pengarang berusaha memahami tauhid dan tasawuf dari kitab
nahwu, al-Ajrumiyah, yang isinya sama sekali jauh dari keduanya.
Kajian dalam penelitian ini bertumpu pada teori yang disampaikan oleh
Abid al-Jabiri tentang konstruksi pemikiran Arab, yaitu; bayani, burhani, dan
?irfani. Pertama, peneliti menjelaskan tentang epistemologi pengetahuan Arab
tentang ke-Islam-an secara umum, dan pada tahap selanjutnya terfokus pada
epistemologi pengetahuan sufi yang masuk dalam kategori ?irfani. Kaum sufi
menyatakan bahwa sumber pengetahuan yang memiliki otoritas kebenaran
adalah kasyf dan ru?ya (tersigkapnya tabir penghalang antara Tuhan dan
mahluk melalui intuisi dan mimpi), dari intuisi dan mimpi itulah para ulama
sufi memperoleh ilmu pengetahuan.
Hasil penelitian dalam tesis ini adalah, pertama, diketahui bahwa
pandangan sufi terhadap nahwu merupakan pandangan yang esoterik (batin),
artinya para sufi tidak menafikan adanya nahwu secara eksoterik (zahir). Oleh
sebab itu, nahwu sufi berisi tentang penafsiran-penafsiran sufi tentang nahwu
dalam pandangan ahli bahasa (?ulama? al-zahir). Kedua, ulama sufi menjadikan
istilah dalam nahwu sebagai istilah perjalanan sufistik, melalui kalam serang
murid belajar untuk berbicara dengan Tuhan melalui bahasa hati yang santun,
pada perjalanan berikutnya seorang murid akan mengalami situasi-situasi
sufistik yag berubah-ubah seperti halnya ?i?rab (perubahan kondisi hati)
ketakutan, kesenangan, dan ketertundukan penuh harapan untuk menghadirkan
Tuhan dalam hatinya.}
}