%0 Thesis %9 Skripsi %A MUHAMMAD IRHAM, NIM. 11360002 %B FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM %D 2019 %F digilib:34607 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %K Tahrik, ta’ârud al-adillah, al-Jam’u %P 88 %T HUKUM TAHRIK TELUNJUK SAAT TASYAHUD (ANALISIS KOMPARASI PENDEKATAN TA’ÂRUD AL-ADILLAH ANTARA MAŻHAB MÂLIKÎ DAN MAŻHAB SYÂFI’Î) %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/34607/ %X Perbedaan di dalam cara tahrik saat tasyahud berdasarkan adanya hadiś yang bertentangan. Hadiś riwayat ibnu az-Zubair hanya menyebutkan Nabi berisyarat telunjuk. Adapun Hadiś riwayat Wa’il ibnu Hujr menerangkan Nabi menggerakkan telunjuknya. Hadiś sebagai sumber hukum Islam kedua (setelah al-Qur’ân) merupakan landasan perbuatan di dalam kehidupan, terutama dalam persoalan ibadah mahdah. Di dalam menyikapi pertentangan adanya hadiś-hadiś tahrik tersebut, terjadi ikhtilaf di kalangan mażhab. Mażhab Mâlikî dalam tasyahudnya dilakukan dengan menggerak-gerakkan telunjuk. Adapun Mażhab Syâfi’î dengan mengangkat telunjuk tanpa mengerak-gerakkannya. Perbedaan ini cukup kontras, sehingga dapat terjadi perbedaan antar umat Islam hingga menimbulkan saling merasa benar di dalam pemahaman fikih dan ibadahnya. Berdasarkan hal demikian, penyusun tertarik untuk menganalisis secara komparatif perbedaan pandangan kedua mazhab tersebut berdasarkan teori pendekatan ushul fiqh, yaitu ta’ârud al-adillah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pustaka (library researh), yaitu penelitian yang menggunakan buku-buku literatur sebagai sumber datanya. Adapun penelitian ini bersifat deskriptif, analitik, komparatif, yaitu penelitian yang menggambarkan dan menguraikan objek pembahasan secara sistematis dari berbagai sumber, kemudian dianalisis serta dikomparasikan menurut kedua tokoh untuk menemukan hasil penelitian. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Mazhab Maliki melakukan tarjih terhadap kedua hadiś, dengan mengutamakan hadiś dari Wa’il ibnu Hujr dengan makna menggerak-gerakkan telunjuk dari kanan ke kiri sejak awal hingga akhir tasyahud. Adapun Mażhab Syâfi’î, lebih memilih hadiś Ibnu az-Zubair dengan makna mengangkat telunjuk dalam posisi menunjuk pada saat tasyahud, tanpa menggerak-gerakkannya, tepatnya pada saat mengucap kata istbat (lâ) pada kata lâ ilâha illallâh. Adapun terhadap pertentangan keduanya terdapat jalan al-jam’u atau titik temu yakni menyepakati adanya isyarat dan menggerakkan telunjuk. %Z Dr. H. FUAD, M.A. NIP. 19540201 198603 01 003