@mastersthesis{digilib34932, month = {February}, title = {SEJARAH PERJALANAN SPIRITUAL WALANGSUNGSANG}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM. 1620510002 SITI ZULFAH, SHUM}, year = {2019}, note = {Dr. Maharsi, M.Hum,}, keywords = {Perjalanan Spiritual, Walangsungsang, Cirebon}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/34932/}, abstract = {Era Walangsungsang dikenal sebagai masa transisi dari kerajaan Hindu- Budha menjadi Islam, dalam kontek,agama sosial, budaya, dan politik. Terlepas dari itu, Walangsungsang pada saat ini masih menjadi tokoh ?pribumi? yang membumikan pengalaman Walangsungsang dalam perjalanan spiritualnya bagi masyarakat Cirebon. Perjalanan spiritual (Tawasuf) dikarenakan beberapa pengalaman dan ajaran Walangsungsang berbasis Tasawuf. Signifikansi perjalanan spiritual Walangsungsang untuk menunjukan adanya pembuktian atau penegasan akademik bahwa Walangsungsang bukan sekedar tokoh legenda, mitos atau semacamnya, tetapi bagian dari tokoh historis dan fakta sosial keagamaan melalui rekonstruksi peradaban Islam yang dibangunnya di Nusantara terutama pada abad ke-15 M. Rumusan masalah dalam tulisan ini ialah: Pertama, Bagaimana sejarah perjalanan spiritual Walangsungsang?.,Kedua, Bagaimana pengaruh perjalanan spiritual Walangsungsang dalam keberagamaan masyarakat Cirebon?. Penelitian ini adalah penelitian pustaka (library resarch) melalui penelusuran naskah dan refrensi buku yang relevan, serta menjajakkan beberapa tempat bersejarah di Cirebon seperti Keraton dan pusat kebudayaan di Cirebon. Penulis dalam merekonstruksi masalah penelitian menggunakan pendekatan sejarah, yakni melalui tahapan (Heoristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi). Perjalanan spiritual (suluk) dikatergorikan sempurna apabila dia sudah, menegakkan baik dalam bentuk ittihaad (penyatuan), hulul (inkarnasi), wahdatul wujud (kesatuan wujud), dan suasana mistik lainnya yang melampaui, mencakupi, dan menekan sesaat kepribadian privat pelaku pengalaman tersebut (individual-transedental). Selanjutnya perjalanan seorang sufi dikategorikan penyempurna ketika dia mengamalkan secara nyata di dunia ini (realitas) semua pengalaman yang dia dapatkan di dunia hakikat (sosialempirik). Pengamalan ini berupa perjuangan sosial dari hubungan vertikal ke horisontal sebagai upaya membangun fisik, psikis, moral, dan kultural demi terjaganya perdamaian kehidupan secara individu dan sosial. Dalam kontek tokoh Walangsungsang, sebagai lumaku (salik), sorang keturunan Raja (Toohan), banyak menimba ilmu dari pendeta Budha yang ditemui selama perjalanannya. Walangsungsang tidak meninggalkan ajaran atau ilmu yang didapatkan dari pendeta, ia juga menerima ajaran Islam dari Syekh Datuk Kahfi, kemudian Walangsungsang menyebarkan Islam dengan tidak meninggalkan tradisi keilmuan, hubungan dengan masyarakat dengan cara yang sederhana. Sehingga beberapa pusakan yang Walangsungsang dapatkan kemudian oleh Syekh Datuk Kahfi menyandarkan berdasarkan al Qur?an dan hadis. Pusaka atau ajimatnya sampai saat ini memberikan pengaruh kuat terhadap keberagamaan masyarakat Cirebon. Faktanya, petilasan Walangsungsang selalu ramai dari pengunjung yang ziarah di Makam Kramat Talun Pangeran Walangsungsang.} }