%A NIM: 96372655 SUHARDI %O 1. DR. H. SYAMSUL ANWAR, MA 2. DRS. KAMSI, MA %T PEMIKIRAN HOS TJOKROAMINOTO TENTANG RELASI AGAMA DAN NEGARA %X Masalah kenegaraan tampaknya telah menjadi bahan diskusi berkepanjangan dalam sejarah pemikiran politik Islam. Polemik di sekitar persoalan ini terasa semakin seru ketika kaum muslimin memasuki periode modern, lebih-lebih setelah berbagai ideologi besar dari Barat mulai menanamkan pengaruhnya, di dunia Islam. Tema-tema diskusi ini pada garis besarnya berhubungan dengan wajib tidaknya kaum muslimin mendirikan negara, siapa yang berhak menduduki jabatan kepala negara. Bahkan pada zaman modern ini muncul persoalan: apakah agama harus dipisahkan dengan negara dan apakah Islam merintallkan ummatnya untuk membentuk dan mendirikan "Negara Islam" ataukah tidak. Dari selumh uraian yang telah dipaparkan di atas, ada beberapa kesimpulan yang bisa dirumuskan sebagai berikut: l. Islam bagi cokroaminoto adalah agama yang sempuma yang mengcover seluruh sisi kehidupan manusia. Walaupun begitu, Islam tidak mengatur semua kehidupan dengan rinci melainkan mengatur secara global. Di sini Islam hanya mengatur prinsip-prinsip dasar kehidupan yang relevan bagi pembahan zaman. Karena itu ummat Islam boleh membuat sistem kehidupan berbangsa dan bemegara asalkan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar tersebut. Oleh karena itu, dalam bidan~ kenegaraan, secara kategorial, Tjokroaminoto masuk ke dalam wilayah Teori Simbiotik, di mana negara menggrinakan agama sebagai landasan dalam kehidupan berbangsa dan bemegara karena dengan agama kehidupan bemegara dapat berkembang dalam bimbingan moral dan etika. Sebaliknya agama memerlukan negara sebab negara adalah alat yang paling tepat dan berpengaruh untuk memelihara dan mengembangkan agama. 2. Kehidupan bernegara dalam pemikiran Tjokroaminoto adalah negara yang menggunakan asas keadilan, ukhuwwah, persamaan dan mengutamakan musyawarah (demokrasi). 3. Sistem kenegaraan dalam pemikiran Tjokroaminoto adalah negara demokrasi yang melibatkan seluruh rakyat untuk ikut . mengelola pemerintahan dengan jalan perwakilan di parlemen (legislati:t) untuk memilih orang-orang yang berhak dan cakap dalam menjalankan roda pemerintahan (eksekutif). Walaupun begitu untuk memperkuat legitimasi eksekutif terhadap rakyat tidak menutup kemungkinan untuk menerapkan demokrasi langsung, di mana kekuasaan eksekutif (kepala pemerintahan) dipilih langusng oleh rakyat. 4. Negara dalam pemikiran Tjokroaminoto adal.ah sebuah alat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat di mana agama, sosial, ekonomi dan politik dibangun untuk kemaslahatan bersama dengan tidak ada perbedaan perlakuan akses kesejahteraan. Oleh karena itu, bangunan ekonomi yang hams diterapkan adalah ekonomi sosialistik yang · tanpa ada monopoli, ologopoli, riba dan eksploitasi. Bangunan sosial budaya yang hams diterapkan adalah masyarakat yang jauh dari jahiliyah modem, yaitu masyarakat sosialisreligius yang menyandarkan pada tiga prinsip kehidupan "sebersih-bersih tauhid", "setinggi-tinggi ilmu", dan "sepandai-pandai siasat". Prinsip-prinsip ini merupakan kunci dalam mencapai kehidupan bermasyarakat yang harmonis, adil, egaliter dan demokratis sebagaimana kehidupan yang pernah dialami pada masa Rasulullah dan sahabat. 5. Karena Tjokroaminoto seorang organisator dan aktivis besar dengan visi dan misi besar, Tjokroaminoto membutuhkan media yang juga besar untuk merealisasikan gagasan tersebut. Di sini Tjokroaminoto· akhimya memutuskan media apa yang hams ia jadikan "kendaraan" untuk mewujudkan misinya yang · mulia itu. Akhimya sejarah bisa meniiai bahwa pilihannya untuk masuk PSII adalah sangat tepat dan dari sini kemudian dunia tahu bahwa Indonesia punya tokoh yang cukup disegani bagi kawan maupun lawan baik dalam nasional maupun intemasional yang hebat yang telah banyak melahirkan tokoh dan pemimpin bangsa Indonesia. %K HOS TJOKROAMINOTO, AGAMA DAN NEGARA %D 2004 %I UIN Sunan Kalijaga %L digilib35898