%0 Thesis %9 Skripsi %A PRAYOGO FAHMI PANGESTU, 13360049 %B FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM %D 2019 %F digilib:36042 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %K Tradisi Nyadran %P 114 %T TRADISI NYADRAN DI DUSUN NGELO GUNUNGKIDUL (STUDI PERBANDINGAN PANDANGAN TOKOH ADAT DAN TOKOH AGAMA) %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/36042/ %X Tradisi nyadran merupakan warisan budaya leluhur yang masih memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia. Lebih lanjut, keyakinan yang kuat akan pentingnya tradisi nyadran tersebut bahkan membuat sebagian besar masyarakat memandang nyadran sebagai sebuah kewajiban bersama, dimana ada keyakinan bahwa bila nyadran tidak dilaksanakan maka akan muncul dampak buruk bagi warga. Berbeda dengan nyadran yang dilaksanakan di daerah-daerah lain pada umumnya, dimana nyadran biasanya dikalukan di kuburan atau masjid, tradisi nyadran di dusun Ngelo dilakukan di sebuah tempat yang disakralkan (petilasan). Masyarakat Ngelo berkeyakinan bahwa para leluhur lebih dekat dengan Tuhan, sehingga doa yang mereka sampaikan lebih cepat didengar dan dikabulkan melalui perantara para leluhurnya. Hal inilah yang melatarbelakangi penyusun melakukan penelitian ini, dimana fokus dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana praktik nyadran di Dusun Ngelo Gunungkidul, terutama terkait bagaimana persamaan dan perbedaan pandangan antara pemuka adat dan tokoh agama terhadap tradisi nyadran tersebut. Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan (field research), dimana data dikumpulkan langsung dari lapangan (lokus) dengan berbagai metode, yakni observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis-komparatif, yaitu suatu analisis masalah yang berpedoman pada upaya untuk membandingkan dua konsep atau lebih untuk dicari persamaan dan perbedaannya. Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara pendapat tokoh adat dan tokoh agama terkait eksistensi perayaan nyadran. Akan tetapi dalam praktik nyadran, di Dusun Ngelo mengandung unsur urf fasid karena ada beberapa hal yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Ada upaya keras dari tokoh agama untuk mengubah penyimpangan tersebut menjadi urf shahih, yaitu dengan cara memodifikasi muatan ritual tersebut menjadi lebih Islami tanpa harus menghilangkan tradisinya. Karena dalam kenyataannya tradisi nyadran merupakan suatu budaya masyarakat yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. %Z Dr. MUHRISUN, M. Ag, MSW.