TY  - THES
N1  - 1. Shofiyullah, Mz, MAg
2. H. Zuhri, M.Ag
ID  - digilib36110
UR  - https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/36110/
A1  - AHMAD KHOLISH, NIM. 00510089
Y1  - 2006/05/16/
N2  - Latar belakang yang kental dengan syarat tradisi pesantren membentuk
dan menjadikan Abdurrahman Wahid betul-betul memahami agama, lebih-lebih
ada wadah NU sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Sehingga
dari sini sebenamya besar harapan umat Islam terlebih warga NU untuk bisa
mengembangkan "sayap" untuk perkembangan Islam.
Posisinya serta karir dalam kancah politik mampu menjadikan dia sebagai
orang nomor satu di Indonesia (Presiden) pada tahun 1999-2001. Namun posisi
ini tidak menjadikan dia terninabobokkan olehjabatan yang sedang diembannya.
Ide dan gagasan besar selalu muncul dan ada dalam diri dia akan
kepentingan umat manusia di Indonesia secara umum, walaupun memang banyak
sekali respon yang ada akibat dari statemen yang dianggap kontroversi oleh
masyarakat umum atas doktrin agama yang ada selama ini dipercaya.
Dengan pendekatan historis sebagai upaya penelusuran pemahaman atas
makna dengan apa yang teijadi, baik itu dari Abdurrahman Wahid sebagai
personal (memahami biografi baik Jatar belakang pendidikan, karya-karya serta
karangan intelektual dan ilmiah, maupun buku-buku yang dibaca), juga nilai
historis dari persoalan yang muncul.
Deskriptik analitik sebagai metode yang digunakan dalam memberikan
persoalan secara gamblang yang kemudian dianalisa sesuai dengan data-data yang
ada adalah metode terbaik .dalam penulisan skripsi ini, karena dengan
mengekplorasi persoalan-persoalan yang ada dari Abdurrahman Wahid
diharapkan bisa menjadikan analisis yang dilakukan lebih obyektif dan medekati
denganmaksud yang sebenamya.
Persolan Tap MPR No.:XXV/MPRS/1966, yang oleh Abdurrahman Wahid
harus ditinjau kembali, halalnya Ajinomoto yang mengandung unsur babi
(Porcine), Iegalitas Khonghucu dan perayaan Imlek di Indonesia serta membagun
hubungan dagang dengan Israel adalah upaya Abdurrahman Wahid dalam
memberikan pengakuan terhadap hak dan kepentingan manusia. Perbedaan
pandangan dalam memandang dan memberikan kebijakan adalah suatu hal wajar,
tapi yang terpenting adalah kebijakan tersebut demi kabaikan bersama.
Abdurrahman Wahid ketika menjadi seorang Presiden tahun (1999-2001)
sangatlah proporsional menempatkan persoalan, walaupun dia sendiri adalah
seorang agamawan. Sikap Humanis yang dimilikinya, membuatnya menjadi
pemimpin yang memiliki Pemikiran Inklusive dalam beragama. Sikap yang
Inklusive ini bisa dilihat dari maksud pemyataan-pemyataannya dalam kasuskasus
ketika dia menjadi Presiden.
Sebagai seorang agamawan sekaligus penguasa, pemikiran politik dan
keagamaan Abdurrahman Wahid sangatlah mngedepankan aspek kebangsaan
bukan golongan, dan itu bisa dilihat dari sikapnya yang selalu memikirkan mereka
yang tertindas dan "sengsara".
PB  - UIN Sunan Kalijaga
KW  - Agama
KW  -  politik
KW  -  Gus Dur
KW  -  Abdurrahman Wahid
M1  - skripsi
TI  - TIPOLOGI PEMIKIRAN POLITIK DAN KEAGAMAAN  ABDURRAHMAN WAHID TAHUN 1999-2001
AV  - restricted
EP  - 82
ER  -