TY - JOUR ID - digilib376 UR - https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/376/ A1 - ABD. SALAM ARIEF, Y1 - 2008/06/18/ N2 - bSetiap hukuman atau aturan yang diundangkan, baik hukum itu datang dari Tuhan atau disusun oleh manusia senantiasa bertujuan untuk mengatur tatanan kehidupan manusia dan masyarakat, serta untuk melindungi kepentingan manusia dalam aktifitas kehidupannya. Oleh karena itu tidak ada suatu aturan atau hukum yang mengikat kecuali diundang-undang yang berperan sebagai subyek hukum. Demikian pula dalam syariat Islam, aturan dan ketentuan hukum terhadap suatu persoalan sebelum diberlakukan, terlebih dahulu diungkapkan oleh al-Quran atau Sunnah Nabi yang sekaligus juga keduanya menjadi sumber hukum. Al-Quran sebagai sumber hukum Islam yang pertama tidak menyebutkan adanya hukuman rajam. Di dalam al-Quran hanya dikenal istilah hukuman jilid terhadap pezina. Penetapan adanya hukuman rajam hanya diketahui dari hadis yang dikenakan terhadap pezina muhsan. dari sumber kedua, yaitu hadis inilah, kemudian timbul perbedaan pendapat mengenai sah dan tidaknya diberlakukan hukum rajam terhadap pezina muhsan. Bagi pihak yang menolak hukuman rajam berargumentasi bahwa hadis yang menunjukkan adanya hukuman rajam itu terjadi sebelum turun surat al-Nur ayat 2, sedangkan pihak yang mengukuhkan adanya hukuman rajam berpendapat sebaliknya. Perdebatan dan perselisihan pendapat itu begitu menarik, dengan argumentasinya masing-masing pihak berusaha memperkuat pendapatnya. Bertitik tolak dari suatu kenyataan yaitu adanya perbedaan pendapat di kalangan fuqaha dan mufassirin mengenai hukuman rajam ini, menurut hemat kami menarik dijadikan bahan kajian disamping penting pula dilakukan analisa hukum dari kedua pendapat yang saling bertentangan tersebut. PB - Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta JF - /Jurnal/Al-Jamiah/Al-Jamiah No. 52 Th. 1993/ KW - Hukuman KW - Rajam KW - Pidana Islam TI - EKSISTENSI HUKUMAN RAJAM DALAM PIDANA ISLAM AV - public ER -