%A NIM. 1530016018 Ahmad Salim %O Prof. Dr. H. Maragustam, M.A., Dr. H. Radjasa, M.Si. %T SEKULERISASI DAN KEBERTAHANAN MAKNA SIMBOLIK; Respon dan Penguatan Nilai Religiusitas Madrasah di Bukit Menoreh Yogyakarta %X Penelitian ini bertujuan menganalisis upaya madrasah mempertahankan makna simbolik nilai religius sebagai respon munculnya sekulerisasi dan dogmatis simplitis masyarakat perbukitan yang fokusnya pada empat hal; 1) dampak sekulerisasi- dogmatis, 2) alasan respon madrasah, 3) penguatan religiusitas, 4) kebermaknaan makna simbolik. Kajian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan sosiologifenomenologi. Data dikumpulkan dengan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Sebagai kerangka teoritik memanfatkan wacana sosial Peter L Berger tentang dialektik fundamental masyarakat-eksternalisasi, objektifikasi dan internalisasi, serta diintegrasikan dengan analisis wacana Thomas Lickona tentang konfigurasi penguatan nilai- moral knowing, moral feeling, dan moral acting. Data kemudian dianalisis menggunakan metode reduksi data, penyajian dan kesimpulan. Hasil kajian ini menemukan simpulan pokok bahwa pada satu sisi sekulerisasi yang telah menyeruak ke masyarakat Bukit Menoreh Yogyakarta berimplikasi kepada sikap uncare, dan unrespect menemukan momentumnya pada masyarakat perbukitan ini. Pada sisi lain, menyebarnya nilai dogma agama yang sangat fanatik berimplikasi terhadap tumbuh dan berkembangnya sikap intoleransi antara Muslim-Kristen, Muslim- Budha dan sesama muslim sendiri. Paradoksi sekulerisasi yang dicirikan dengan rasional kapital dengan penyebaran nilai agama bersifat dogmatis juga menembus dinding-dinding madrasah yang berimplikasi tergerusnya nilai religius siswa, menjadi alasan madrasah melakukan respon terhadap kemunculan sekulerisasi dan juga nilai agama dogmatis simplitis. Penguatan nilai religius kepada siswa madrasah dengan mengandalkan moral model sebagai basis penguatan toleransi, peduli sosial, hormat dan santun pada siswa usia dasar (MI dan MTs) dan moral knowing sebagai basis penguatan pada siswa usia menengah (MA). Penguatan dilaksanakan melalui pembelajaran di dalam kelas serta beberapa kegiatan di luar madrasah, baik kegiatan ekstrakurikuler ataupun kegiatan insidental yang lansung menyentuh pada masyarakat secara luas. Muara penguatan nilai religius kepada siswa adalah terhabituasinya nilai tersebut dalam harian kehidupan siswa. Upaya madrasah mentransformasi simbol agama menjadi universum simbolik dilakukan dengan cara inkulturasi dengan nilai tradisi Jawa sehingga menemukan realitas simbolik yang mempunyai makna dan derajat sakral pada kontek nilai toleransi, peduli sosial, hormat dan santun. Makna simbolik agama sebagai universum simbolik bagi masyarakat dapat dijadikan pedoman etik atau norma tertib, agar manusia mempunyai kebermaknaan hidup sehingga tidak mengalami keterasingan dari dunia modern ini. Madrasah akan menjadi preferensi utama masyarakat sebagai benteng penjaga nilai religius dari ancaman sekulerisasi dan dogmatis simplistis, jika madrasah memiliki aktor pembelajar dengan kecerdasan toleransi sehingga terhindarkan dari pola pikir sektarian. %K Sekulerisasi, religius %D 2019 %I UIN Sunan Kalijaga %L digilib38023