%0 Thesis %9 Skripsi %A ICHA KAMILA PRATIWI, NIM. 16540044 %B Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam %D 2019 %F digilib:38338 %I UIN Sunan Kalijaga %K Kafir, Framing, Media Online %P 125 %T PRO-KONTRA PENGHAPUSAN KATA KAFIR HASIL MUSYAWARAH NASIONAL ALIM ULAMA NU (Aplikasi Teori Analisis Framing terhadap Media Online Nu.or.id dan Muslim.or.id) SKRIPSI Diajukan kepada %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/38338/ %X Indonesia sebagai salah satu negara pluralism di dunia. Terdapat enam agama yang diakui oleh negara Indonesia: Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan Konghucu. Pemeluk agama Islam menempati jumlah masyarakat terbesar di Indonesia. Persoalan agama menjadi hal sensitif di Indonesia. Polemik kata kafir menjadi perdebatan di masyarakat, fenomena kafir mengkafirkan menjadi satu isu keagamaan yang banyak dijumpai pada beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, Nahdatul Ulama menggarisbawahi mengenai pandangan Piagam Persaudaraan Kemanusiaan Abu Dhabi untuk mentransformasikan pola pikir umat Islam yang memiliki paham rasis dan menyebabkan timbulnya konflik-konflik karena bentuk-bentuk interpretasi dalam ajaran Islam tertentu. Dalam musyawarah Nasional, NU mengambil keputusan mengganti kata kafir menjadi non-muslim untuk kemaslahatan umat, keputusan tersebut mendapat berbagai macam respons di media online seperti Nu.or.id dan Muslim.or.id. Media online menjadi alat yang paling efektif dalam kecepatan waktu untuk memberi dan menerima informasi saat ini, berita dan informasi lainnya mudah diakses oleh masyarakat luas tanpa batas. Dengan demikian, berita mengenai penghapusan kata kafir yang disajikan oleh media Nu.or.id dan Muslim.or.id menjadi isu menarik khususnya di kalangan umat Muslim. Pada dasarnya media memiliki kecenderungan masing-masing dalam memberitakan suatu isu atau peristiwa. Nu.or.id memberikan pandanganya mengenai penghapusan kata kafir dengan prinsip kontekstual dalam melihat peristiwa, sedangkan Muslim.or.id memiliki pola pikir yang tekstual dalam melihat peristiwa. Robert N. Entmant menunjukkan bahwa media mampu berkontribusi dalam mempengaruhi opini pembaca berita. Perbedaan dalam kedua media dapat dilihat dari elemen make moral judgement masing-masing media terletak pada faktor teks dan konteks. Media adalah sebuah wadah untuk memberikan informasi yang seharusnya menyampaikan berita sesuai dengan yang terjadi, tidak memilah dan memilih informasi yang disajikan. Namun faktanya, terdapat beberapa media yang muncul bukan bersifat netral, akan tetapi media tersebut memiliki kepentingan-kepentingan lain. Seperti media Nu. or.id dan Muslim. or.id. terdapat kepentingan organisasi Masyarakat dan kepentingan politik praktis. Keputusan ulama NU mengganti kata kafir menjadi non-muslim dapat dibandingkan dengan Pemikiran Nurcholis madjid tentang Islam modernisai. Pandangan Nurcholis Madjid tersebut bertujuan untuk menyetarakan Islam dengan perkembangan dunia modern, pemikiran tersebut lebih luas dalam memaknai Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. Sedangkan penghapusan kata kafir yang dilakukan oleh ulama NU adalah bagian kecil dari upaya menegakkan perdamaian antar umat beragama di Indonesia. %Z Dr. Adib Sofia, S.S, M.Hum.