@incollection{digilib42083, month = {July}, author = {- Waryono Abdul Ghafur}, booktitle = {100 ORANG INDONESIA ANGKAT PENA DEMI DIALOG PAPUA}, address = {Yogyakarta}, title = {DIALOG SEBAGAI JALAN BUKAN TUJUAN}, publisher = {Interfidei}, pages = {221--224}, year = {2013}, keywords = {Dialog; Sejarah Indonesia}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/42083/}, abstract = {SEJAK AWAL berdirinya, Indonesia adalah negara dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika (unity in diversityle pluribus unum). Pasca runtuhnya Orde Baru dan Indonesia memasuki era Reformasi, kata mutiara' ini harus terus dihidupkan dan dibesarkan kembali gaungnya, karena semakin membesar dan meluasnya perilaku dan bahkan ada kebijakan publik yang mengarah pada penghilangan atau setidaknya menggerus nilai-nilai kebhinekaan tersebut. Untuk menyebut sekadar contoh, adalah adanya debat panjang dan kontroversial mengenai UU Pomografi, diberlakukannya Perda Syari'ah di beberapa daerah, dan lain-lain. Dua contoh tersebut cukup memberi pengaruh pada semakin memudarkan identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, beragam, plural dalam banyak hal: agama, suku, etnis, bahasa, adat-istiadat dan lain-lain. Ditemukannya alat komunikasi dan sarana informasi yang canggih serta mobilitas penduduk antar daerah, kini tidak ada satu kawasan pun, termasuk di wilayah Indonesia yang steril dari adanya persentuhan dan hubungan antar masyarakat yang beragam. Karena itu, teknologi informasi dan komunikasi justeru mengukuhkan pentingnya pemeliharaan prinisip Bhineka Tunggal Ika tersebut. Prinsip itulah yang akan menjadikan manusia -dengan keragaman nya- untuk terus terdorong hidup bersama dalam perbedaan dan saling menguatkan, bukan pembedaan dan saling menegasikan.} }