%0 Thesis %9 Skripsi %A MUHAMMAD FAISAL MA'RUF - NIM. 0436000, %B Fakultas Syari'ah %D 2011 %F digilib:5679 %I UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta %K waktu pelaksanaan salat, menentukan awal waktu salat, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Lajnah Falakiyah PBNU %T PERBANDINGAN METODE PERHITUNGAN AWAL WAKTU SALAT MENURUT MUHAMMADIYAH DAN NU (Studi Terhadap Jadwal Waktu Salat Bulan Desember 2009 Untuk Wilayah Yogyakarta) %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/5679/ %X Waktu-waktu pelaksanaan salat telah diisyaratkan oleh Allah swt. dalam ayat-ayat Al-Qur'an, yang kemudian dijelaskan oleh Nabi saw. seperti telah diriwayatkan dalam beberapa hadits. Namun waktu-waktu salat yang telah ditunjukkan dalan Al-Qur'an dan As-Sunnah tersebut berupa fenomena alam, yang terkadang pada kondisi-kondisi alam tertentu sangat sulit digunakan untuk menentukan awal waktu salat. Sementara itu penentuan awal waktu salat merupakan bagian yang sangat penting, karena hal ini menyangkut kapan ibadah salat bisa mulai dilaksanakan oleh kaum muslim. Mengingat alasan tersebut sangat perlu adanya penetapan awal waktu salat menurut kaidah ilmu astronomi, khususnya ilmu falak. Di Indonesia banyak lembaga/ormas Islam yang melakukan perhitungan penentuan awal waktu salat, di antaranya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Sebagai ormas Islam terbesar, kedua ormas ini, masing-masing mempunyai badan/lembaga yang bertugas melakukan perhitungan penetapan awal waktu salat, yaitu Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dan Lajnah Falakiyah PBNU. Namun, terkadang kedua lembaga ini memiliki hasil yang berbeda dalam menentukan awal waktu salat. Adanya perbedaan tersebut, mendorong dilakukannya penelitian untuk mengetahui apa yang menyebabkan adanya perbedaan awal waktu salat dari kedua ormas tersebut. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh bahwa adanya perbedaan hasil perhitungan penentuan awal waktu salat dari kedua ormas tersebut, secara garis besar perbedaan disebabkan dalam metode perhitungan. Muhammadiyah menggunakan data ephemeris khususnya equation of time dan deklinasi matahari, masing-masing dalam setiap waktu salat, sementara Nahdlatul Ulama, menggunakan data ephemeris equation of time dan deklinasi matahari bertolak dari waktu zuhur untuk semua waktu salat yang lain. Perbedaan juga muncul sebagai akibat perbedaan penentuan ketinggian matahari pada waktu magrib. Hal-hal tersebut mengakibatkan harga sudut waktu matahari, ephemeris transit atau meredian pass berbeda yang pada akhirnya menyebabkan adanya selisih awal waktu salat. Sedangkan data data ketinggian matahari pada waktu asar, isya dan subuh serta posisi lintang dan bujur tempat adalah sama. Perbedaan awal waktu salat yang muncul tidaklah terlalu jauh, yakni berkisar satu menit. Dengan demikian, maka perlu adanya penetapan awal waktu salat secara bersama yang disepakati oleh ormas-ormas Islam yang ada di Indonesia untuk menjaga kebersamaan di kalangan umat muslim di Indonesia. div %Z Pembimbing: 1. Prof. Dr. H. Susiknan Azhari, MA. 2. Fathurrohman, S.Ag., M.Si.