%0 Thesis %9 Skripsi %A Nurul Kholish, NIM.: 07530004 %B FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM %D 2011 %F digilib:58423 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %K Al-Nisyan, Al-Sahwu, Al-Gafla %P 183 %T AL-NISYAN, AL-SAHWU DAN AL-GAFLAH KAJIAN SEMANTIK AL-QUR’AN %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/58423/ %X Tulisan ini berawal dari permasalahan yang disebut sebagai problem semantik, sebuah problem yang senantiasa melekat pada al-Qur’an sebagai sebuah teks linguistik. Semantik merupakan jalan masuk yang mau tidak mau harus dilalui seseorang dalam rangka memahami kandungan al-Qur’an. Dari sudut semantik, kata-kata dalam al-Qur’an dapat menjadi problem serius dan tidak jarang menimbulkan perbedaan pendapat yang akhirnya menyebabkan terjadinya sekat-sekat dalam kehidupan sosial dan keagamaan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Pertanyaan yang coba dijawab dari penelitian ini adalah; (1) apa makna al-nisya>n, al-sahwu dan al-gaflah dalam al-Qur’an ditinjau dari sudut semantik linguistik?, (2) bagaimana persamaan dan perbedaan semantik dari ketiga masing-masing kata ini dalam penggunaan dalam al-Qur’an?. Untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, penelitian ini sepenuhnya memanfaatkan kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan semantik linguistik, yakni mencari asal usul makna kata baik dengan bantuan syiir Jahili atau kitab-kitab tafsir atau kamus-kamus yang menjelaskan ketiga kata tersebut. Terkait dengan studi semantik leksikal, al-nisya>n, al-sahwu dan al-gaflah dalam pembahasannya dibagi ke dalam bentuk analisis, ‘medan-medan’ dan ‘sanding kata’ (fields dan collocation). Ketiga kata ini dapat dikelompokkan sesuai dengan medan maknanya meskipun pembedaan medan makna tidak sama untuk setiap bahasa. Pengelompokan tipe kata-kata ini dilakukan berdasar kesamaan objek, kesamaan ciri atau sifat yang dimiliki oleh benda, hal, peristiwa, atau aktivitas lainnya. Untuk memperjelas ketiga kata ini, ditampilkan struktur medan semantiknya dalam al-Qur’an dilihat dari hubungan makna dengan katakata pendampingnya secara paradigmatik. Hasil kajian ini, penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut: pertama, a). Makna al-nisya>n dalam al-Qur’an adalah tertinggalnya manusia mengingat sesuatu yang diamanatkan kepadanya’, baik karena lemah hatinya maupun karena lupa yang tidak disengaja, gaflah (lalai) atau disengaja sehingga hilang ingatan di hatinya. b). Makna al-sahwu dalam al-Qur’an di antaranya; kesalahan yang diakibatkan dari kelalaian yang sifatnya lama dan disengaja sehingga mengakibatkan disiksa dan Allah mencelanya. c). Makna al-gaflah dalam al- Qur’an yaitu mencegah dari berhenti memikirkan hal-hal yang benar’. Kedua, a). Persamaan dan perbedaan semantik al-nisya>n dan al-sahwu; persamaannya adalah unsur makna kedua kata ini lebih cenderung peyorasi dan sama-sama berdasar kehendak, maksud, dan kebutuhan. Sedangkan perbedaannya adalah al-nisya>n menunjukkan lalai yang bersifat temporal, sedangkan al-sahwu lalai yang bersifat lama. b). Persamaan dan perbedaan semantik al-sahwu dan al-gaflah; persamaannya adalah sama menunjukkan lalai yang lama. Sedangkan perbedaannya adalah al-sahwu digunakan untuk mensifati lalai pada sesuatu yang yang tidak ada wujudnya, sedangkan al-gaflah sebaliknya. %Z Pembimbing: Prof. Dr. Suryadi, M. Ag