%A SUGENG SUGIYONO %J /Jurnal/Al-Jamiah/Al-Jamiah No. 64-XII Th. 1999/ %T AL-MARAH WA AL-LUGHAH MALAMIH AL-TAHAYYUZ AL-JINS FI AL-LUGHAH %X Seiring munculnya gerakan feminisme serta semakin merebaknya kesadaran akan adanya ketimpangan jender dalam tata kehidupan bermasyarakat, terlihat pula perhatian yang serius terhadap wacana kebahasaan yang dianggap bias, baik dalam penggunaan istilah maupun pemakaian strukturnya. Bahasa Arab dan Inggris, dipandang sangat isexist/i serta menunjukkan indikator ke arah isexism/i yang cenderung menempatkan jenis feminin sebagai the isecond sex/i. Tak pelak, tokoh kontroversial semacam Nasr Hamid Abu Zaid memperlihatkan bagaimana penyebutan nama-nama wanita (Arab) yang disamakan dengan peristilahan iajam (gagu)/i semacam ifatimatu ibrahimu/i dan izainabu/i tanpa boleh diitasrif/i atau diitanwin,/i sehingga kehilangan sifat-sifat kedinamisannya. Pandangan inilah diantaranya yang membawa ideologi sektarian yang semakin memperburuk citra kaum wanita. Dalam tulisan ini disebutkan adanya wacana baru untuk tidak lagi menempatkan istilah ahasa feminimi(lugab unusab)/i dalam wacana kebahasaan, dan sebagai gantinya agar melihatnya sebagai ahasa tanpa dayai(powerless language)/i yang perlu diberdayakan menuju pada pemakaian istilah dan struktur bahasa yang lebih egaliter i(nonsexist)/i, jauh dari kesan bias. Bahasa bias dimaksud adalah bahasa yang mencitrakan laki-laki sebagai pihak yang sukses, sementara wanita di pihak yang seksi. Sementara dalam bahasa Arab terdapat peristilahan femenim yang melukiskan kebesaran dan keagungan semisal insaniyah, adalah, aulamah dan malaikah. Meski bahasa Arab itu sexist, namun al-Quran cukup piawai dalam menerapkannya sehingga apabila dipahami, ia cenderung kepada sikap netral. Sebagai contohnya, banyak sekali afal i(verbs)/i yang aslinya maskulin, kemudian di feminimkan i(tanis)/i. b %K Al-Marah, Al-Lughah Malamih, Al-Tahayyuz, Al-Jins, Al-Lughah %D 2008 %I Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta %L digilib595