@mastersthesis{digilib74819, month = {November}, title = {PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN ISTIMA? AL-AKHBAR PADA MAHASISWA PBA UIN SUNAN KALIJAGA: STUDI ANALISIS TEORI SOSIOKULTURAL LEV VYGOTSKY}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 23204022021 Banat Su?adini Sabrina, S.Pd}, year = {2025}, note = {Dr. Dailatus Syamsiyah, S.Ag., M.Ag.}, keywords = {Istima? Al-Akhbar, Pembelajaran Bahasa Arab, Ketergantungan AI, Problematika Mahasiswa}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/74819/}, abstract = {Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena meningkatnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT, Google Translate, dan NoteGPT dalam proses pembelajaran bahasa Arab, khususnya pada keterampilan menyimak berita (Istim{\=a}? al-Akhb{\=a}r). Meskipun teknologi tersebut mempermudah akses dan pemahaman materi, penggunaannya secara berlebihan berpotensi menurunkan kemandirian belajar serta kemampuan reseptif mahasiswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pembelajaran Istim{\=a}? al-Akhb{\=a}r, mengidentifikasi problematika yang dihadapi mahasiswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan jenis studi kasus dengan perspektif teori sosiokultural Lev Vygotsky. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Teori Vygotsky digunakan untuk menganalisis interaksi sosial, scaffolding, dan Zone of Proximal Development (ZPD) dalam pembelajaran istim{\=a}? al-akhb{\=a}r, khususnya dalam konteks pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran Istim{\=a}? al-Akhb{\=a}r telah dilaksanakan secara sistematis melalui tahapan pre-listening, while-listening, dan post-listening, dengan penerapan metode komunikatif seperti listening drills, diskusi isi berita, dan note-taking. Namun, mahasiswa masih menghadapi berbagai problematika linguistik (terbatasnya penguasaan mufrad{\=a}t, kesulitan memahami fonem cepat dan struktur kalimat), problematika non-linguistik (rendahnya motivasi, kepercayaan diri, dan keterbatasan media), serta ketergantungan terhadap AI yang menghambat pembentukan kemandirian belajar. Ketergantungan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga psikologis, karena mahasiswa lebih nyaman menggunakan bantuan otomatis dibanding berlatih menyimak secara langsung. Temuan ini menunjukkan pentingnya penerapan teori sosiokultural Lev Vygotsky, khususnya konsep Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding, untuk membantu mahasiswa beralih dari ketergantungan menuju kemandirian belajar melalui interaksi sosial dan bimbingan bertahap. AI dapat berfungsi sebagai mediational tools yang menjembatani kemampuan aktual dan potensi belajar mahasiswa, namun penggunaannya perlu diarahkan agar tidak menggantikan peran berpikir kritis serta interaksi edukatif. Ketergantungan yang berlebihan terhadap teknologi justru berisiko melemahkan proses internalisasi pengetahuan dan mengurangi peran dosen sebagai pemberi dukungan utama. Oleh karena itu, penerapan teori Vygotsky menekankan perlunya pendampingan yang terarah, sehingga AI benar-benar berfungsi sebagai sarana penunjang pengembangan ZPD mahasiswa, bukan sebagai pengganti pengalaman belajar yang sesungguhnya.} }