TY - THES N1 - Prof. Dr. Robby Habiba Abror, S.Ag., M.Hum. ID - digilib74936 UR - https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/74936/ A1 - Muhammad Alfaridzi, NIM.: 19105010012 Y1 - 2025/08/27/ N2 - Media sosial Instagram di Indonesia menunjukkan fenomena yang paradoks. Instagram memiliki durasi penggunaan (total user time indeks) terendah hanya 24,3 dibandingkan platform lain seperti TikTok yang mencapai 100,0. Namun Instagram tetap menjadi platform favorit ketiga (18,5%) dengan 108 juta pengguna aktif. Paradoks ini menimbulkan pertanyaan: bagaimana Instagram bisa menjadi favorit padahal penggunanya tidak menghabiskan waktu lama di platform? Penelitian ini berhipotesis bahwa Instagram berhasil menciptakan keterlibatan yang intens meskipun dalam waktu singkat dengan merayu pengguna untuk terus berinteraksi aktif (like, comment, share), karena setiap interaksi tersebut diubah menjadi data yang bernilai bagi bisnis platform. Penelitian ini bertujuan membongkar mekanisme teknologi feed Instagram yang menciptakan keterlibatan intens melalui sistem bujuk rayu (seduksi) dan menginterpretasikannya melalui konsep seduksi Jean Baudrillard untuk mengungkap struktur tersembunyi di balik tampilan visual platform. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan dan observasi langsung pada platform. Data primer diperoleh dari dokumen teknis Meta; Transparency Center, kebijakan Instagram, publikasi Meta AI dan observasi aplikasi Instagram, dan karya-karya Baudrillard seperti Seduction, Simulacra and Simulation, The Consumer Society. Analisis data dilakukan melalui dua tahapan: pertama, mengkonstruksi data tentang cara kerja teknologi feed melalui reduksi, penyajian, dan kesimpulan sementara; kedua, interpretasi filosofis menggunakan kerangka teori Baudrillard untuk mengidentifikasi mekanisme seduksi. Penelitian ini mengungkapkan bahwa feed Instagram bekerja melalui tiga mekanisme teknologi (encoding, aggregation, dan computation) yang masing-masing mensimulasikan mode relasi berbeda dalam pemikiran Baudrillard (polar, dual, dan digital). Encoding mensimulasikan relasi polar dengan mereduksi kompleksitas interaksi sosial menjadi kategori-kategori platform (like, comment, share, save), menciptakan seduksi (bujuk rayu) melalui ilusi partisipasi yang sebenarnya mengarahkan pengguna untuk berperilaku sesuai kebutuhan sistem. Aggregation mensimulasikan relasi dual dengan membangun kedekatan sintetik sehingga platform tampak memahami pengguna secara personal padahal hanya mengolah pola data, menciptakan seduksi melalui ilusi keintiman yang personal namun artifisial. Computation mensimulasikan relasi digital murni dengan mengubah pengguna menjadi terminal data, menciptakan seduksi melalui otomatisasi yang menghilangkan pertukaran simbolik autentik. Ketiga mekanisme ini bekerja secara bersamaan dan saling menguatkan, namun pada dasarnya semuanya hanya mensimulasikan bentuk-bentuk relasi tanpa substansi asli, menjebak pengguna dalam sistem bujuk rayu (seduksi) berlapis yang melahirkan permainan tanda tanpa akhir demi kepentingan bisnis platform. PB - UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA KW - Instagram KW - Feed Instagram KW - Seduksi Algoritmatik KW - Jean Baudrillard KW - Simulakra KW - Hiperrealitas M1 - skripsi TI - SEDUKSI ALGORITMATIK: ANALISIS KRITIS JEAN BAUDRILLARD PADA MEKANISME FEED INSTAGRAM AV - restricted EP - 177 ER -