@phdthesis{digilib74972, month = {December}, title = {KETERPENGARUHAN MUHAMMAD HUSEIN AZ-ZAHABI OLEH PEMIKIRAN IGNAZ GOLDZIHER DALAM KITAB AT-TAFSIR WA AL-MUFASSIRUN: STUDI ATAS NARASI NEGATIF DAN AFIRMATIF}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 22105030039 Diviena Thalsa Anjuma}, year = {2025}, note = {Asep Nahrul Musadad, S.Th.I, M.Ag.}, keywords = {Az-Zahabi, Goldziher, At-Tafsir wa Al-Mufassirun, Narasi Negasi, Narasi Afirmasi}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/74972/}, abstract = {Munculnya karya Ignaz Goldziher yang berjudul Die Richtungen der Islamischen Koranauslegung menggemparkan lanskap intelektual pada masa itu. Untuk pertama kalinya, sejarah perkembangan tafsir dikaji dengan pendekatan historis-kritis yang jelas berbeda dengan model penulisan sejarah perkembangan tafsir sebelumnya. Hal ini memicu sarjana Islam untuk merespons pemikiran tersebut melalui pendekatan yang sama. Salah satunya adalah Muhammad Husein A{\.z}-{\.Z}ahabi. Ia merespons hal tersebut dalam disertasinya yang berjudul ?at-Tafs{\=i}r wa al-Mufassir{\=u}n?. Karya ini tidak serta-merta memetakan sejarah tafsir al-Quran dalam perspektif Islam secara sistematis, namun juga sebagai counter atas klaimklaim Goldziher dalam bukunya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research) yang menggunakan terjemahan pertama buku Die Richtungen der Islamischen Koranauslegung dengan judul al-Ma{\.z}{\=a}hib al- Isl{\=a}miyah f{\=i} Tafs{\=i}r al-Qur?{\=a}n karya Ali Hasan Abdul Qadir dan kitab at-Tafs{\=i}r wa al-Mufassir{\=u}n sebagai sumber data primer, serta literatur-literatur pendukung terkait yang digunakan sebagai sumber data sekunder. Teknik analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif-analitis-kritis untuk memetakan kemudian menganalisis narasi negasi dan afirmatif A{\.z}-{\.Z}ahabi terhadap argumen-argumen Goldziher. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa karya Goldziher telah memicu ulama Muslim untuk menerjemahkan karyanya dan mengomentari argumen-argumennya, baik secara ilmiah, ataupun disertai dengan kritikan berbasis teologis. Kritik yang berbasis teologis ini muncul dari klaim-klaim yang bertolak belakang dengan akidah Islam. Hal ini dapat dilihat dari penolakan A{\.z}- {\.Z}ahabi secara tegas dan mengkritik argumen Goldziher yang dianggap merusak pondasi keyakinan Islam, pada klaim tentang ketidakotentikan al-Quran akibat variasi qira?at, kredibilitas periwayatan tafsir, serta kemurnian periwayatan tafsir. Namun, di sisi lain, A{\.z}-{\.Z}ahabi juga mengafirmasi dan memanfaatkan analisis Goldziher pada titik-titik tertentu, seperti penegasan bahwa tahap pertama penafsiran berpusat pada teks al-Quran itu sendiri, pengakuan terhadap otoritas Ibnu Abbas sebagai ?Bapak Tafsir?, apresiasi terhadap karya monumental A{\c t}-{\c T}abar{\=i}, serta penerimaan terhadap pendekatan linguistik Muktazilah dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat. Hasil penelitian ini merepresentasikan suatu bentuk dialog kritis antara sarjana Islam dengan sarjana Barat. Goldziher berhasil memantik sarjana Islam untuk menghasilkan karya sejarah perkembangan tafsir dengan format yang berbeda, sehingga muncul sarjana Islam yang meresponsnya, yaitu A{\.z}-{\.Z}ahabi. Pendekatan yang digunakan oleh Goldziher mempengaruhi cara pandang A{\.z}{\.Z}ahabi terhadap sejarah dan bagaimana A{\.z}-{\.Z}ahabi kemudian menuliskan historiografinya yang juga memanfaatkan kerangka analisis Goldziher untuk memperkuat argumen-argumennya.} }