%0 Thesis %9 Skripsi %A Moh. Syadidul Abror, NIM.: 19105020056 %B FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM %D 2025 %F digilib:75123 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %K Piton Piton, Makna Simbolik, Semiotika %P 98 %T MAKNA SIMBOLIK DALAM TRADISI PITON PITON DI DESA PONTANG KECAMATAN AMBULU KABUPATEN JEMBER JAWA TIMUR %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75123/ %X Tradisi Piton Piton di Desa Pontang, Kabupaten Jember, merupakan salah satu warisan budaya Jawa yang masih dipraktikkan oleh perempuan hamil pada usia kandungan tujuh bulan. Tradisi ini memuat rangkaian ritual siraman dan slametan dengan berbagai perlengkapan simbolik seperti air tujuh sumur, kembang telon, kelapa gadhing, kain batik, tumpeng, serta jenang yang sarat akan makna spiritual dan sosial. Peneliti mendapati bahwa tradisi tradisi tersebut tidak sekadar ritual belaka, tetapi juga memiliki nilai komunikasi melalui makna, tanda dan simbolisitas dalam tiap prosesinya. Maka, penelitian ini mengangkat permasalahan bagaimana pelaksanaan ritual dan konteks simbolik dalam tradisi Piton Piton, serta bagaimana analisis makna simbolik tersebut dengan menggunakan teori semiotika Umberto Eco. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan mengenai tradisi Piton Piton di Desa Pontang, dan bertujuan menjelaskan makna simbolik dari setiap prosesi tradisi Piton Piton tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif lapangan dengan jenis penelitian deskriptif analitik. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan verifikasi melalui triangulasi sumber. Data yang telah didapat tersebut akan ditelaah dengan teori Semiotika Umberto Eco untuk menafsirkan unsur denotatif dan konotatif pada setiap alat atau bahan ritual, serta melihat peran interpretan dalam membangun pesan simbolik yang diterima masyarakat. Hasil penelitian pertama menunjukkan bahwa prosesi siraman dan slametan Piton Piton dijalankan dalam tiga tahapan utama persiapan, pelaksanaan, dan penutup dengan penentuan waktu menurut pasaran Jawa (Pon, Kliwon) serta pola penggunaan perlengkapan ritual yang konsisten meski terdapat variasi bentuk dan motif. Hasil kedua mengungkapkan bahwa setiap unsur ritual, seperti kelapa gadhing bermotif Arjuna Srikandi, kembang telon, dan jenang abangputih, menyiratkan makna denotatif (penyucian, keselamatan, kesuburan) dan konotatif (harapan keberanian, kelembutan, solidaritas sosial), yang membentuk pemahaman kolektif tentang keseimbangan antara nilai lokal, historis, dan keagamaan. Pelaksanaan tradisi tersebut memiliki tiga nilai utama, (1) nilai ibadah yang bermakna sebagai penyucian dari sifat sifat buruk dan doa agar anak yang dikandunganya selamat, (2) nilai shadaqah untuk saling berbagi makanan, (3) nilai kerukunan, yakni sebagai sara bersosial. Kata Kunci: Piton Piton, Makna Simbolik, Semiotika Umberto Eco %Z Dr. Dian Nur Anna, S.Ag., M.A.