@phdthesis{digilib75168, month = {November}, title = {AKULTURASI KEBUDAYAAN ISLAM TRADISI TAHLILAN SINGIRAN DI DUSUN JABAN SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 21105040078 Fajar Arif Dwipatma}, year = {2025}, note = {Dr. Masroer, S.Ag., M.Si.}, keywords = {Akulturasi, Interaksionisme Simbolik, Budaya Lokal}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75168/}, abstract = {Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses interaksionisme simbolik pada tradisi tahlilan singiran, dengan mengetahui proses akulturasi dan dampak dari interaksionisme simbolik dalam tradisi tahlilan singiran terhadap masyarakat di Dusun Jaban Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Perkembangan kebudayaan masyarakat senantiasa berinteraksi dengan unsur budaya, sehingga menghasilkan percampuran yang disebut dengan akulturasi. Melalui proses pendekatan dan penerimaan budaya oleh masyarakat lokal, kemudian membentuk polarisasi pemahaman kebudayaan baru yang memadukan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal. Tahlilan singiran hadir sebagai bentuk dari ibadah, bentuk penghormatan kepada leluhur, sekaligus sebagai media memperkuat ikatan sosial antarwarga. Keberlangsungan tradisi ini mengalami tantangan yang nyata, minat dari generasi muda dan regenerasi pelantun Singiran yang tidak berjalan dengan baik. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data-data diperoleh melalui pendalaman dari pengalaman, tantangan, sikap dan cara pandang masyarakat terhadap tradisi kebudayaan Tahlilan Singiran, melalui enam narasumber yang telah ditentukan dalam penelitian ini. Pisau analisis yang digunakan dalam penelitaian ini menggunakan teori Interaksi Simbolik Herbert Blumer, yang menekankan pentingnya simbol dan interaksi sosial dalam membentuk makna kehidupan manusia. Hasil dari penelitian menunjukan adanya akulturasi budaya tradisi Tahlilan Singiran di Dusun Jaban, di mana lantunan doa berpadu dengan syair berbahasa Jawa klasik yang penuh nasihat moral. Ritual keagamaan tidak hanya berfungsi sebagai sarana spiritual, tetapi juga menjadi ruang sosial tempat masyarakat membentuk identitas bersama. Singiran menegaskan bahwa nilai religiusitas Islam dapat terintegrasi dengan ekspresi budaya lokal tanpa kehilangan substansi ajarannya. Tahlilan singiran tidak hanya menjadi ritual yang diwariskan, tetapi juga dapat dipandang sebagai ruang simbolik yang memungkinkan masyarakat untuk terus menegosiasikan identitas keagamaan mereka dalam konteks zaman yang berubah. Kata Kunci: Akulturasi, Interaksionisme Simbolik, Budaya Lokal} }