%A NIM.: 23200012025 Faruq Alkafi %O Prof. Dr. H. Ibnu Burdah, S.Ag., M.A. %T SISTEM TEOKRASI DAN DEMOKRASI; KRITIK TEOLOGIS DAN SOSIOLOGIS TERHADAP SISTEM VELAYAT-E FAQIH DAN DEMOKRASI DI IRAN %X Penelitian ini bermula dari fenomena mengemukanya gelombang protes masyarakat Iran dalam beberapa tahun terakhir, yang mencapai puncaknya dalam Gerakan Woman, Life, Freedom pascawafatnya Mahsa Amini pada tahun 2022. Fenomena ini merepresentasikan dinamika teodemokrasi di Iran, sebuah sistem yang dibangun di atas transmisi klaim pengawasan ilahi dan mekanisme elektoral. Ketegangan yang berulang antara kedaulatan Tuhan yang diwujudkan melalui doktrin velāyat-e faqīh dan aspirasi partisipasi politik masyarakat memunculkan peluang pembelajaran mendasar mengenai penguatan legitimasi, keinginan, dan masa depan tatanan politik Iran. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis fondasi struktural dalam konstitusi dan praktik politik Iran yang menyatukan otoritas keulamaan dengan prinsip-prinsip demokrasi, serta mengkaji bagaimana dinamika tersebut memperkaya legitimasi politik yang semakin kokoh dalam gelombang protes kontemporer. Penelitian ini juga bertujuan untuk menelaah cara gerakan sosial mengartikulasikan aspirasi yang memperkuat sistem teokrasi. Penelitian ini menggunakan teori Post-Islamisme dari Asef Bayat dan teori Sekularitas Keagamaan dari Naser Ghobadzadeh sebagai kerangka analisis utama, dengan didukung oleh konsep Guardian Regimes yang dikembangkan oleh Payam Mohseni yang direinterpretasi sebagai mekanisme ketahanan rezim. Metode yang diterapkan adalah kualitatif melalui pendekatan studi kepustakaan (library research) yang diperkaya dengan analisis wacana terhadap konstitusi, doktrin velāyat-e faqīh, teks-teks akademis, serta dokumen-dokumen terkait gerakan sosial di Iran. Temuan penelitian ini mengungkap beberapa hal berikut: Pertama, konstitusi Iran secara sistematis menginstitusionalisasikan sinergi antara kedaulatan ilahi dan kedaulatan rakyat, yang pada akhirnya menciptakan stabilitas politik yang adaptif dan berkelanjutan. Kedua, dalam praktiknya, doktrin velāyat-e faqīh mengalami proses birokratisasi dan politisasi yang memperkuat legitimasi spiritual para ulama serta mempercepat integrasi agama di ruang publik secara dinamis. Ketiga, Gerakan Woman, Life, Freedom menjadi bukti empiris atas kemampuan rezim dalam mengelola dan mengabsorpsi aspirasi masyarakat. Keempat, demokrasi substantif menawarkan penguatan transformasi politik Iran menuju sistem teokrasi yang lebih inklusif, melalui sinkronisasi wacana keagamaan dan pemberdayaan lembaga sosial masyarakat. %K Teodemokrasi Iran; Velayat-e faqih; ketahanan rezim; integrasi kedaulatan %D 2025 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %L digilib75176