%0 Thesis %9 Masters %A Laelatul Mu’afiyah, NIM.: 23205031078 %B FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM %D 2025 %F digilib:75253 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %K Azan Pitu, Tradisi Diskursif, Talal Asad, Founding Past, Reasoning, Tolak Bala %P 119 %T KONSTRUKSI PELANGGENGAN AYAT-AYAT WABAH DALAM PRAKTIK AZAN PITU DI MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA CIREBON %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75253/ %X Praktik Azan Pitu yang dikumandangkan oleh tujuh muazin di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon merupakan fenomena keagamaan unik yang berakar dari konteks historis sebagai ritual tolak bala, khususnya terkait legenda Aji Menjangan Wulung. Kesenjangan muncul karena praktik ini tidak didasarkan pada dalil tekstual fikih yang eksplisit mengenai azan berjumlah tujuh, melainkan pada otoritas tradisi lisan yang terus dipertahankan relevansinya, terbukti dari pelaksanaannya kembali secara intensif sebagai respons spiritual saat pandemi Covid-19. Fenomena ini memunculkan pertanyaan akademis mengenai bagaimana masyarakat mengkonstruksi legitimasi praktik tersebut dan menghubungkannya dengan sumber-sumber Islam yang otoritatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme pelanggengan tradisi Azan Pitu sebagai sebuah tradisi diskursif. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode penelitian lapangan (field research), data dikumpulkan melalui observasi partisipan, dokumentasi, dan wawancara mendalam dengan muazin, tokoh keraton, serta jamaah. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan teori Tradisi Diskursif (Discursive Tradition) dari Talal Asad yang menekankan pada interaksi antara teks, otoritas masa lalu, dan praktik tubuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Azan Pitu bukan sekadar sinkretisme budaya, melainkan sebuah tradisi diskursif Islam yang sah bagi komunitasnya. Pertama, legitimasi tradisi ini dibangun melalui genealogi "masa lalu pendirian" (founding past) yang merujuk pada otoritas Sunan Gunung Jati. Kedua, pelanggengan tradisi dilakukan melalui penalaran (reasoning) teologis di mana masyarakat memaknai simbol ‘pitu’ sebagai ‘pitulung’ (pertolongan), yang diselaraskan secara tematis dengan narasi Al-Qur’an tentang kesabaran Nabi Ayyub (Q.S. Al-Anbiya [21]: 83-84) dan doa kolektif (Q.S. Al-Baqarah [2]: 286). Ketiga, tradisi ini dijaga melalui relasi kuasa Keraton dan praktik ketubuhan (embodied practice) muazin yang didisiplinkan. Kesimpulannya, Azan Pitu adalah manifestasi dari bagaimana umat Islam lokal menggunakan nalar teologis dan otoritas sejarah untuk mendefinisikan ortodoksi praktik keagamaan dalam menghadapi krisis wabah. %Z Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum., M.A.