@phdthesis{digilib75316, month = {December}, title = {MENTAL LOAD IBU RUMAH TANGGA (STUDI KASUS RT 49 KAMPUNG BADRAN BUMIJO KOTA YOGYAKARTA)}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 21102050028 Sabrina Zulfiana Rahma}, year = {2025}, note = {Andayani, SIP, MSW}, keywords = {gender; Ibu Rumah Tangga; mental load}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75316/}, abstract = {Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman mental load ibu rumah tangga serta serta memahami bagaimana konstruksi gender dapat mempengaruhinya. Menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, penelitian ini melibatkan lima orang ibu yang tinggal di RT 49 Kampung Badran, Bumijo, Yogyakarta. Data diperoleh melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu rumah tangga di RT 49 mengalami mental load yang berlangsung terus-menerus melalui proses anticipating, identifying, deciding, dan monitoring dalam mengelola pekerjaan domestik, pengasuhan, serta keuangan keluarga. Beban ini diperberat oleh emotional labor karena para ibu merasa harus menjaga stabilitas emosi keluarga dan menekan ekspresi kelelahan mereka sendiri. Penelitian ini menemukan bahwa konstruksi gender tradisional yang menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama urusan rumah tangga menyebabkan pembagian kerja domestik menjadi timpang. Keterlibatan suami umumnya terbatas pada kerja fisik dan belum menyentuh kerja kognitif, sehingga mental load tetap berpusat pada ibu rumah tangga. Nilai bahwa pekerjaan rumah tangga merupakan ?kodrat perempuan? telah terinternalisasi dan direproduksi lintas generasi, sehingga ketimpangan tersebut dianggap wajar. Lebih lanjut, temuan penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan mental load tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya komunikasi interpersonal, melainkan oleh tidak diakuinya kerja mental sebagai bentuk kerja yang sah. Kondisi ini membatasi ruang komunikasi dan negosiasi peran dalam keluarga, sehingga mental load menjadi berat, berlapis, dan sulit didistribusikan. Dengan demikian, mental load ibu rumah tangga merupakan persoalan struktural yang berakar pada relasi gender yang tidak setara.} }