relation: https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75329/ title: REINTERPRETASI DISTRIBUSI ZAKAT FISABILILLAH DAN IBNU SABIL BAZNAS DAN LAZISMU DIY PERSPEKTIF TAFSIR MAQASHIDI creator: M Hammam Fadlurahman, NIM.: 23205032044 subject: Ilmu Alqur’an dan Tafsir description: Penelitian ini berangkat dari dinamika sosial ekonomi modern yang semakin kompleks, pendistribusian zakat tidak bisa lagi hanya sekadar mengandalkan taklid pada interpretasi fiqh klasik terhadap QS at-Taubah ayat 60. Kategori delapan asnaf disebutkan dalam ayat tersebut perlu dibaca ulang agar tetap relevan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat kontemporer. Reinterpretasi ini sangat penting untuk memastikan bahwa zakat bukan hanya sekadar pembagian nominal, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan, pengentasan kemiskinan, dan keadilan sosial yang membawa perubaham signifikan. Salah satu contoh yang sering menjadi perbincangan yakni penafsiran fī sabīlillāh dan ibnu sabīl secara periodik dan kondisional selalu mengalami perkembangan. Pada masa klasik, sekitar abad 1-2 hijriah, kondisi umat islam masih banyak peperangan, sehingga fī sabīlillāh secara harfiah berarti “jalan Allah” adalah berperang melawan orang-orang kafir. Tetapi jika fī sabīlillāh dimaknai dalam bentuk peperangan secara fisik, maka interpretasi tersebut perlu direinterpretasi pada masa sekarang, karena perubahan zaman sudah semakin kompleks. Begitu pula dengan pengertian Ibnu sabīl yang secara bahasa diartikan “anak jalanan” atau “musafir yang kehabisan bekal”, yang kemudian mengalami perkembangan makna. Kata Ibnu sabīl dapat diartikan. Kata Ibn berarti anak laki-laki dan al-sabil berarti jalan yang ada kemudahan (untuk melewatinya). Pada asnaf fī sabīlillāh dan ibnu sabīl. Dari segi kebahasaan pada keduanya, fī sabīlillāh dan ibnu sabīl, memiliki kemiripan menggunakan kata al-sabil. Secara bahasa al-sabil berarti jalan kemudahan (untuk melewatinya). Oleh karena itu, penafsiran fī sabīlillāh dan viii ibnu sabīl terbuka peluang potensi reinterpretasi yang sangat luas, sehingga dalam pendistribusian yang dilakukan lembaga zakat baik Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) perlu diberikan kriteria untuk menggolongkan siapa saja yang termasuk dalam kategori fī sabīlillāh dan ibnu sabīl. Agar distribusi zakat dapat tepat sasaran dan sesuai dengan tuntunan QS. At-Taubah ayat 60. Khususnya bagi BAZNAS DIY sebagai lembaga zakat yang dibentuk langsung oleh pemerintah dan lembaga zakat LAZISMU DIY yang bentukan langsung dari organisasi masyarakat. Oleh karena itu penting untuk mengkaji; pertama Bagaimana reinterpretasi makna fī sabīlillāh dan ibnu sabīl yang dilakukan oleh kedua lembaga tersebut? Kedua, Mengapa perlu ada reinterpretasi baru terhadap makna fī sabīlillāh dan ibnu sabīl dalam distribusi mutahik zakat? Ketiga, Apa implementasi serta implikasi terkait distribusi kebutuhan sosial terhadap fī sabīlillāh dan ibnu sabīl?. Penelitian ini tergolong dalam penelitian pustaka (library research) dan penelitian lapangan (field reserach) dengan menggunakan pendekatan Tafsir Maqashidi penulis berusaha untuk menganalisis Maqashid dari kebijakan lembaga zakat BAZNAS DIY dan LAZISMU DIY dalam pendistribusian terhadap asnaf fī sabīlillāh dan ibnu sabīl. Dalam melakukan reinterpretasi, Pertama, BAZNAS DIY berpegang kuat pada (Peraturan Menteri Agama) PMA dan (Peraturan BAZNAS) Perbaznas. Reinterpretasi fī sabīlillāh dimaknai sebagai perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam melalui dakwah, pembinaan keagamaan, dan pendidikan umat. Selanjutnya, ibnu sabīl tetap dimaknai sebagai musafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan yang sesuai dengan syariat. Kedua, LAZISMU DIY, melakukan reinterpretasi fī sabīlillāh adalah muslim yang menegakkan syiar-syiar agama allah, hal ini mencakup ix perjuangan dalam bentuk personal maupun kelembagaan. Selanjutnya, Ibnu sabīl tidak lagi dibatasi pada musafir fisik, tetapi diperluas menjadi “perjalanan bernilai kebaikan”, termasuk mahasiswa perantauan yang kehabisan bekal, sehingga zakat diarahkan untuk dukungan pendidikan dan keberlanjutan masa depan mustahik. Penelitian ini menyimpulkan reinterpretasi baru terhadap makna fī sabīlillāh dan ibnu sabīl dalam distribusi mustahik zakat menjadi kebutuhan mendesak karena adanya perubahan realitas sosial umat yang tidak lagi sama dengan konteks awal turunnya ayat-ayat zakat. Dari 7 maqashid syariah yang digagas dalam tafsir maqashidi, namun hanya 4 Maqashid yang relevan dengan distribusi zakat fī sabīlillāh dan Ibnu Sabīl yakni Hifz al-Dīn, Hifz al-Nafs, Hifz al-‘Aql, Hifz al-Māl.Sementara itu, distribusi zakat fī sabīlillāh dan Ibnu Sabīl telah memenuhi 5 nilai ideal moral Al-Qur’an Kata Kunci: BAZNAS DIY, fī sabīlillāh, ibnu sabīl, LAZISMU DIY, Reinterpretasi, date: 2025-01-26 type: Thesis type: NonPeerReviewed format: text language: id identifier: https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75329/1/23205032044_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf format: text language: id identifier: https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75329/2/23205032044_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf identifier: M Hammam Fadlurahman, NIM.: 23205032044 (2025) REINTERPRETASI DISTRIBUSI ZAKAT FISABILILLAH DAN IBNU SABIL BAZNAS DAN LAZISMU DIY PERSPEKTIF TAFSIR MAQASHIDI. Masters thesis, UIN SUNAN KALIJAGAYOGYAKARTA.