%0 Thesis %9 Masters %A Muhammad Fadhil, NIM.: 23204082024 %B FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN %D 2025 %F digilib:75411 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %K Pembelajaran Interdisipliner, IPAS, Guru dan Siswa, Sekolah Dasar, Kurikulum Merdeka. %P 240 %T ANALISIS IMPLEMENTASI PENDEKATAN INTERDISIPLINER DALAM PEMBELAJARAN IPAS DI SEKOLAH DASAR: PERSPEKTIF GURU DAN SISWA DI YOGYAKARTA %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75411/ %X Pembelajaran IPAS pada jenjang sekolah dasar dalam Kurikulum Merdeka menuntut keterpaduan konsep antara IPA dan IPS melalui pendekatan interdisipliner agar siswa memperoleh pemahaman holistik mengenai fenomena alam dan sosial. Namun, hasil pengamatan awal menunjukkan bahwa implementasi pendekatan ini di sekolah dasar masih menghadapi sejumlah kendala, seperti keterbatasan kompetensi guru dalam mengintegrasikan dua bidang ilmu, penggunaan model pembelajaran yang belum sepenuhnya kontekstual, serta variasi kemampuan siswa dalam mengikuti kegiatan berbasis observasi dan inkuiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendekatan interdisipliner dalam pembelajaran IPAS di SD Malangrejo dan MI Ma‘arif Bego, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, asesmen, refleksi, kemudian mengidentifikasi strategi guru, persepsi siswa, serta berbagai kendala yang dihadapi di lapangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan terdiri dari dua guru IPAS serta sepuluh peserta didik kelas V dari kedua sekolah. Data dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan pendekatan interdisipliner melalui kegiatan proyek, observasi lingkungan, diskusi kelompok, dan pengintegrasian nilai-nilai lokal. Strategi interdisipliner tampak dalam upaya menghubungkan konsep IPA dengan IPS secara tematik untuk memperkaya pengalaman belajar siswa. Siswa merespons positif pembelajaran yang lebih aktif dan kontekstual, meskipun beberapa mengalami kesulitan dalam memahami konsep abstrak dan bekerja sama dalam kelompok. Adapun kendala utama meliputi keterbatasan sarana pembelajaran, alokasi waktu yang kurang memadai, serta belum optimalnya pemanfaatan teknologi oleh guru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan interdisipliner berpotensi memperkuat pemahaman konseptual dan meningkatkan motivasi belajar IPAS apabila didukung perencanaan yang matang, kompetensi pedagogis guru, serta lingkungan belajar yang kolaboratif. Temuan ini memberikan kontribusi bagi pengembangan desain pembelajaran IPAS yang lebih integratif dan kontekstual sesuai tuntutan Kurikulum Merdeka. %Z Dr. Sedya Santosa, S.S., Mpd