@mastersthesis{digilib75466, month = {January}, title = {PRAKTIK TATO TEMPORER ANAK MUDA MUSLIM DI COFFEE SHOP: NEGOSIASI IDENTITAS, ESTETIKA, DAN KESENANGAN}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM: 22200012072 Muhamad Iqbal Amarul Hasan}, year = {2026}, note = {Dr. Nina Mariani Noor, S.S., M.A.}, keywords = {Tato Temporer, Anak Muda Muslim, Coffee Shop, Identitas, Estetika, Media Sosial.}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75466/}, abstract = {Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktik tato temporer di kalangan anak muda Muslim di Yogyakarta sebagai bentuk ekspresi identitas yang berlangsung dalam interaksi sosial di ruang publik Coffee Shop dan media sosial. Tato temporer, khususnya yang menggunakan tinta berbahan dasar jagua dan diklaim tidak menghalangi pelaksanaan ibadah, dipahami bukan hanya sebagai ornamen tubuh, tetapi juga sebagai strategi dalam pengelolaan kesan untuk menampilkan identitas Muslim modern yang religius dan estetis, seperti penggunaan istilah halal, wudhuable, Wudhu-friendly. Penelitian ini berfokus pada beberapa hal, yakni alasan di balik preferensi anak muda Muslim terhadap tato temporer dibandingkan tato permanen, bagaimana konsep halal diproduksi dan dinegosiasikan dalam praktik tato temporer dalam menampilkan dan mempresentasikan identitas mereka. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik observasi partisipatif serta wawancara mendalam dengan tiga penyedia jasa tato temporer dan enam pengguna tato temporer. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik untuk menggali motif, interaksi sosial, dan makna simbolik dalam praktik tato temporer. Teori identitas hibrid yang dikemukakan oleh Stuart Hall digunakan untuk memahami bagaimana anak muda Muslim merumuskan identitas mereka melalui gabungan nilai-nilai agama dan budaya populer global yang diterima secara fleksibel dan kontekstual. Hasil penelitian menujukkan bahwa tato temporer dipilih karena memungkinkan anak muda Muslim menampilkan citra diri yang aman secara moral, fleksibel, dan selaras dengan gaya hidup urban. Coffee Shop berfungsi sebagai panggung depan yang mendukung presentasi identitas religius-estetis secara santai dan tidak menghakimi, sementara media sosial memperluas panggung tersebut melalui visualitas, narasi, dan penandaan lokasi yang memperkuat kesan sebagai Muslim yang saleh namun bergaya. Penelitian ini menegaskan bahwa tato temporer merupakan praktik pengelolaan kesan yang memperlihatkan bagaimana anak muda Muslim menegosiasikan identitas, religiusitas, dan estetika dalam interaksi sosial kontemporer.} }