%0 Thesis %9 Masters %A Hulliyatus Saniyah, NIM.: 23205032022 %B FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM %D 2025 %F digilib:75548 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %K Tafsir Indonesia, Lokalitas Penafsiran, qabāil dan syu’ūb %P 137 %T ASPEK LOKALITAS PENAFSIRAN QOBAIL DAN SYU’UB DALAM TAFSIR INDONESIA (KAJIAN DALAM PENAFSIRAN QS. AL-HUJURAT [49]:13 DALAM TAFSIR AL-IBRIZ, FIRDAUS AN-NA’IM, DAN AL-AZHAR) %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75548/ %X Tesis ini berjudul “Aspek Lokalitas Penafsiran Qabāil dan Syu’ūb dalam tafsir Indonesia kajian dalam Penafsiran QS. Al-Hujurāt [49]:13 dalam Tafsῑr Al-Ibriz,Tafsir Al-Azhar, dan Firdaus an-Na’īm.”. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa penafsiran al-Qur’ān di Indonesia tidak hanya dibentuk oleh aspek linguistik dan teologis saja, tetapi juga dipengaruhi oleh konteks sosial,budaya, dan tradisi keilmuan para mufassir. QS. Al-Hujurāt [49]:13 yang memuat konsep syu’ūb dan qoba’il, merupakan ayat yang secara langsung membahas keberagaman manusia serta relasi sosial yang dibangun atas prinsip kesetaraan. Dalam perkembangan tafsir Nusantara, ayat ini sering menjadi pembahasan antara pesan universal al-Qur’ān dan realitas lokal masyarakat. Berangkat dari latar belakang ini, maka penulis merumuskan masalah yaitu: (1) Apa bentuk lokalitas kata qabāil dan Syu’ūb dalam QS. Al-Hujurāt [49]:13 menurut Tafsῑr Al-Ibriz,Tafsir Al-Azhar, dan Firdaus an-Na’īm. (2) Apa saja yang melatarbelakangi nilai lokalitas dalam penafsiran Al-Ibriz Al-Azhar dan Firdaus an- Na’īm (3) Apa kontribusi penafsiran berbasis lokalitas dalam membangun pemahaman keberagaman dalam konteks Masyarakat Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis library research, serta menggunakan kerangka lokalitas Islah Gusmian. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa bentuk lokalitas penafsiran dalam ketiga tafsir tersebut muncul melalui cara mufassir memaknai syu’ūb dan qoba’il serta menghubungkannya dengan stuktur sosial pembaca. Tafsῑr Al-Ibriz menampilkan lokalitas pesantren Jawa melalui penekanan pada harmoni sosial, kesantunan, dan juga terhadap relasi antarmanusia. Tafsir Al-Azhar menampilkan orientasi sosial-kebangsaan melalui penekanan terhadap etika public, persaudaraan, serta kritik terhadap fanatisme suku dan nasab. Sementara Firdaus an-Na’īm menunjukkan lokalitas khas Madura terhadap penekanan pada hubungan genealogis, solidaritas masyarakat, dan penghormatan terhadap asal-usul, yang mempunyai kesesuain dengan pola sosial seperti bani, kompolan,dan konsep tujuh turunan. Adapun faktor-faktor latar yang melatarbelakangi lokalitas penafsiran tersebut meliputi latar budaya mufassir, seperti tradisi Jawa, menekankan moralitas sosial, tradisi Minang menekankan kesetaraan dan etika publik, sementara Madura menekankan keterhubungan geneologis dan solidaritas komunal. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kontribusi penafsiran berbasis lokalitas terletak pada kemampuannya memperkuat pesan universal al-Qur’ān QS. Al-Hujurāt [49]:13 tentang kesetaraan dan kemuliaan berdasarkan ketakwaan. Temuan tersebut membuktikan bahwa tafsir lokal mampu menjadi jembatan antara teks al-Qur’ān dan realitas multikultural Indonesia serta berperan dalam memperluas pemahaman keberagaman di Masyarakat. Kata Kunci: Tafsir Indonesia, Lokalitas Penafsiran, qabāil dan syu’ūb. %Z Prof. Dr. Ahmad Baidhowi, S.Ag., M.Si